<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442</id><updated>2011-12-04T19:48:41.318+07:00</updated><category term='Kenichi'/><category term='Kumayuki Residence'/><category term='1981'/><category term='Intro'/><category term='7th Year'/><category term='One-shot'/><category term='Places'/><category term='Summer Holiday'/><category term='1982'/><category term='Winter'/><category term='5th Year'/><category term='Osamu'/><category term='Birthday'/><category term='1980'/><category term='Fanfiction'/><category term='Haruhi'/><category term='Mizuhime'/><title type='text'>endless, isn't it?</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-1658719115180574798</id><published>2010-04-21T14:29:00.001+07:00</published><updated>2010-04-21T14:31:03.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1982'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><title type='text'>Asakusa, Tokyo - Japan — Pt. 1.2 (Mizu)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;small&gt;&lt;strong&gt;Saturday, 31st July 1982, 06:30 PM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sumida River, Between Umayabashi Bridge &amp;amp; Komagatabashi Bridge&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seulas senyuman riang terpampang di wajah Asia-nya. Ia kembali senang karena kekasihnya. Haruhi. Dia akhirnya mau diajak ke tempat ramai seperti ini. Terimakasih sebesar-besarnya pada Matsuzaka-san karena sudah mau membantu gadis berusia genap duapuluh tahun ini memaksa Haruhi untuk menghadiri acara untuk umum semua orang Jepang ini. Pesta Kembang Api—di malam seperti ini. Sebenarnya ini bukan hal yang luar biasa bagi Mizu. Ini merupakan suatu acara yang wajib Mizu tonton di saat musim panas ini. Dan ini pertama kalinya Haruhi menonton kembang api layaknya orang Jepang yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu tidak menganggap Haruhi aneh hanya karena itu. Wajar. Sejak kecil—Haruhi tinggal di Kanada, dan baru menetap di Jepang dua tahun yang lalu. Kedua bola matanya kini menyipit karena Kaoru yang sedang memanggil dirinya maupun Haruhi untuk segera mendekatinya. Gadis yang memakai &lt;a id="link_4" href="http://interestedinyukata.files.wordpress.com/2008/06/yukata001.png" target="_blank" rel="nofollow"&gt;yukata putih dengan bunga-bunga berwarna merah muda dicampur dengan warna ungu &lt;/a&gt; yang sebagai penambah agar yukata itu terlihat manis. “Nee—Haruhi. Tampangmu—kau baik-baik saja, kan, Haruhi?” tanya Mizu, kini ia merasa bersalah karena mengajak kekasihnya itu ke tempat seperti ini. Kekasihnya itu hanya menjawab pelan, dan memang benar—ia masih belum terbiasa di tempat ramai seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt; "Then, shall we?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggukan pelan ditambah senyum manis ia berikan pada Haruhi. Gadis itu membalas uluran tangan Haruhi dan memegangnya dengan erat. Mereka menuruni undakan tangga untuk bisa mendekati Kaoru yang menunggu sepasang kekasih ini berjalan di tengah keramaian di malam ini. Selama mereka berjalan, Mizu memperhatikan para anak kecil yang beryukata seperti dirinya, berlari kecil mengejar satu sama lain atau memegang erat tangan orangtua mereka dan terkadang wajahnya merona karena melihat banyak sekali pasangan muda seperti dirinya dan Haruhi. Terdengar pelan bisik Haruhi, sepertinya dia berkomentar tentang Kaoru yang sifatnya belum dewasa. Mizu hanya tertawa kecil mendengar itu—yeah, sebenarnya ada satu sifat dari Mizu yang tidak terlalu disukai oleh Haruhi. Polos. Susah memang untuk menjauhkan sifat Mizu seperti itu. Tapi Mizu bisa jaga diri kok! Tenang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt; "Konbanwa, Mizuhime-sama!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, embel-embel dibelakang namanya -sama. Masih terdengar aneh di kedua telinga gadis ini. Ia lebih suka dipanggil dengan embel-embel -chan dibelakang namanya. Tapi mau bagaimana lagi, Haruhi ada majikan keluarga Matsuzaka itu—mereka bukanlah pelayan namun Matsuzaka adalah pengacara pribadi Haruhi. Dan karena itu mereka juga harus bersikap sopan pada Mizu juga. “Konbanwa, Kaoru-chan,” balas Mizu riang pada gadis yang sebaya dengannya itu. Kaoru segera mempersilakan Mizu duduk di atas tikar berwarna biru terang yang sudah digelar oleh Kaoru. Mizu mengiyakan dengan anggukan pelan, ia melepas &lt;em&gt;geta&lt;/em&gt;nya untuk bersiap duduk di atas tikar ini. Akan tetapi, Haruhi menyuruhnya jangan duduk dulu. Kekasihnya itu menepuk tikar milik Kaoru dan mulutnya berdecak dan berujar pada Kaoru dengan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu tersenyum tipis “Daijyobu, Kaoru-chan,” balas Mizu dengan ramah atas permintaan dari gadis beryukata merah itu. Mizu pun duduk disebelah Haruhi—Kaoru berada dibelakang mereka berdua. Ia menatap Haruhi yang seperti mencari orang, dan hanya mendengar ucapan Haruhi dan Kaoru yang menanyakan dimana kedua orang tua gadis itu. Sepertinya mereka akan menyusul. Bagus. Jadi, mereka berlima akan menikmati kembang api di atas tikar ini bersama-sama. Dan, entah Matsuzaka-san akan memakai Yukata apa tidak. Mizu melirik Haruhi—sedang membaca pamflet yang diberikan oleh Kaoru dan berujar karena belum mahir kanji—yang tidak memakai yukata seperti pemuda lainnya yang Mizu perhatikan daritadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haruhi—kau kenapa tidak memakai yukata?” celetuk Mizu dengan senyum tipisnya sambil memperhatikan Haruhi yang memakai Henley Shirt ditambah celana &lt;em&gt;jeans&lt;/em&gt; untuk bawahannya. Tidak masalah sih Haruhi tidak memakai yukata seperti pemuda lainnya, “Lupakan, Haruhi, dear. Ah, sudah jam berapa ini? Aku sudah tidak sabar ingin melihat kembang api.” lanjut Mizu—gadis itu melirik jam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang sepuluh menit dari waktu yang harus ditentukan oleh pamflet itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-1658719115180574798?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/1658719115180574798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2010/04/asakusa-tokyo-japan-pt-12-mizu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1658719115180574798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1658719115180574798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2010/04/asakusa-tokyo-japan-pt-12-mizu.html' title='Asakusa, Tokyo - Japan — Pt. 1.2 (Mizu)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-8266758772881103290</id><published>2009-10-15T19:09:00.001+07:00</published><updated>2009-10-15T19:10:52.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><title type='text'>Amos Diggory and Evania Goldwin's Wedding - Devon Hills</title><content type='html'>Ini adalah pertama kalinya Haruhi menghadiri sebuah acara Pernikahan. Sebenarnya ia agak enggan untuk kemari, karena tahu dirinya tidak diundang. &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt;-lah yang secara resmi mendapat undangan pernikahan Diggory-Goldwin ini, karena secara tidak langsung kekasihnya itu memang punya hubungan cukup dekat dengan sang mempelai wanita. Selain status sebagai rekan seasrama, tentunya. Haruhi tentu saja tahu kalau Hime-&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt; adalah Kapten Quidditch setelah Goldwin, dan bagaimana sang gadis lebih sering curhat pada seniornya itu ketimbang Haruhi sendiri. Apalagi ketika berselisih dengan Yusuke, jangan kira Haruhi tidak tahu kalau Hime sempat menangis karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi tentu tak akan mengungkitnya hingga Hime yang membicarakan semua itu padanya. Say thanks to Destiny McLight, satu-satunya teman Slytherin yang ia miliki selama ini di Hogwarts. Gadis berambut merah itu tentunya punya banyak cerita mengenai Hime&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;, dan tidak segan membaginya pada Haruhi. Oh, well, katakan saja McLight sebagai sumber informasinya walau tak begitu banyak yang diungkapkannya. Namun berita perseteruan kecil Yusuke-Mizuhime tentunya menyebar begitu cepat, seperti tidak tahu dinding kastil &lt;em&gt;juga&lt;/em&gt; memiliki telinga. &lt;em&gt;Invisible ears&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merapikan &lt;a href="http://i53.photobucket.com/albums/g80/deva_or_sachan/l_p1014504858.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;setelan jas&lt;/a&gt; tanpa dasinya, dan sempat dilirik tajam Hime karena terkesan agak sedikit tidak rapi (&lt;em&gt;"Kenapa tidak pakai dasi?"&lt;/em&gt;), Haruhi bangkit dari duduknya. Berdiri bersamaan dengan para hadirin yang lain, pertanda bahwa sang mempelai wanita akan memasuki tempat upacara tersebut. Seluruh mata kini tertuju pada Goldwin seorang, berjalan menuju altar dengan didampingi oleh seorang pria yang kemungkinan besar adalah ayahnya. Di altar sana, telah menanti Diggory sang mempelai pria, dalam balutan jas terbaiknya. Entah kenapa Haruhi merasa semua orang tengah menahan nafasnya saat ini, hingga Goldwin menginjakkan kakinya di altar, reaksi itu tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kembali terulang ketika proses Sumpah Pernikahan dilakukan saat ini. Haruhi melirik Hime yang berdiri di sebelah kanannya, bertepatan dengan keluarnya janji sehidup-semati itu dari bibir Diggory. Tangannya menggenggam Hime erat, entah kenapa. Kedua telinganya mendengar apa yang keluar dari mulut pendeta di altar itu, meresapi semua kata-katanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;em&gt;persatuan dua jiwa&lt;/em&gt;. Terasa begitu sensitif di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;"Undangan pernikahan, Haruhi-sama?" Matsuzaka membolak-balikkan kopian undangan itu dengan dahi mengernyit, melirik Tuan Mudanya yang tengah menyesap kopinya. Haruhi mengangguk kecil, meletakkan cangkirnya di atas meja dan menatap Matsuzaka dengan alis terangkat. Ada nada aneh terdengar dari bagaimana pengacaranya itu berbicara, "Ada masalah dengan itu semua, Matsuzaka? Kau tak perlu khawatir, aku tak akan menelantarkan pekerjaan. Anggap saja ambil cuti sekitar empat hari—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa, Haruhi-sama, saya mengerti," Matsuzaka tersenyum kecil, menyela kata-kata Tuan Mudanya. Meletakkan undangan tersebut di atas meja, menggeretnya hingga berada di depan Haruhi. Pria setengah baya itu duduk di atas &lt;em&gt;zabuton&lt;/em&gt;, berhadapan dengan Haruhi. Tertawa kecil, seulas senyum jahil tertera di wajah Matsuzaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan Anda dan Mizuhime-sama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi terpaku. Matanya berhenti membaca baris-baris kata Daily Prophet sementara cangkir kopi yang tadi diangkatnya menggantung di depan dagunya. Jelas terlihat bahwa dirinya agak kaget dengan pertanyaan Matsuzaka, sehingga secara tidak sadar menghentikan kegiatannya saat ini dan membiarkan cangkirnya berhenti di depan dagunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdeham kecil dan menyesap kopinya, Haruhi menanggapi Matsuzaka dengan firasat agak buruk, "Ap—apa maksudmu?" Dan, Matsuzaka hanya terkekeh pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak terlintaskah dalam pikiran Anda untuk segera menyusul Diggory-Goldwin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga, kopi yang berada di mulut Haruhi tersembur keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan mereka sudah memiliki anak lelaki yang tampan. Cedric Diggory—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan kecoklatan itu semakin menyembur, dan disusul oleh suara batuk keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup mencengangkan bagaimana kalimat itu bisa keluar dari mulut Matsuzaka. Membuat Haruhi kelabakan untuk menjawabnya, selain dari bagaimana pria itu bisa tahu mengenai Cedric Diggory. Well, mungkin berkat Daily Prophet. Entahlah. Waktu itu Haruhi hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ia melirik &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan? Jelas usianya masih terlalu muda menurutnya walau dalam standar Jepang, usia enambelas tahun sudah banyak yang menikah. Dan kini, usianya duapuluh tahun. Haruskah menunggu lagi? Diggory dan Goldwin yang berada di atas altar sana, mengucap sumpah dalam prosesi sakral ini, jelas telah berada dalam usianya yang telah matang. Berani memutuskan untuk membuka lembaran hidup baru dengan pendamping abadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Haruhi. Siapkah ia? Menjaga &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt; untuk selamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat jemari-jemari lentik yang tengah digenggamnya itu, Haruhi mengecup punggung tangan gadis&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt; lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;"&lt;em&gt;Boku no ai wa—eien.*&lt;/em&gt;"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;*Cintaku abadi untukmu—selamanya&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Credit to Yuki untuk Nihon-nya, dan credit to Miru untuk pujian terhadap Cedric Diggory&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-8266758772881103290?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/8266758772881103290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/10/amos-diggory-and-evania-goldwins.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/8266758772881103290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/8266758772881103290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/10/amos-diggory-and-evania-goldwins.html' title='Amos Diggory and Evania Goldwin&apos;s Wedding - Devon Hills'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-4211514613697055388</id><published>2009-08-02T01:58:00.001+07:00</published><updated>2009-08-02T02:01:23.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1982'/><title type='text'>Asakusa, Tokyo - Japan — Pt.1.1 (Haruhi)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;SUMMER 1982&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Sumidagawa Fireworks Festival&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;small&gt;&lt;strong&gt;Saturday, 31st July 1982&lt;/strong&gt;, 06:30 PM&lt;br /&gt;Sumida River, Between Umayabashi Bridge &amp;amp; Komagatabashi Bridge&lt;br /&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai. Dan sejujurnya, Haruhi tidak terlalu suka ini. Demi Tuhan, seandainya saja Matsuzaka (dan &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt;) tidak memaksanya kemari! Walaupun diakuinya baru kali inilah merasakan sesuatu yang selayaknya normal dirasakan bagi warga Jepang. Kesampingkan kenyataan bahwa dirinya lahir dan tumbuh di Kanada, darah yang mengalir dalam tubuh jangkungnya adalah Asian. Jepang. Dan Haruhi Kumayuki (Haruhi&lt;em&gt;to&lt;/em&gt; Kumayuki, ralat) tentunya harus menerima kenyataan itu. Mulai terbiasa menjadi seorang warga Jepang yang baik, serta penerus bisnis keluarga. Yang warisannya hingga saat ini belum juga sampai ke tangannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...sedikit mengingatkannya pada sosok Osamu. &lt;em&gt;Pamannya itu&lt;/em&gt;. Bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"&lt;span style="font-family: times;"&gt;Haruhi-sama! Mizuhime-sama! Koko, koko!*&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; &lt;a href="http://nakane.files.wordpress.com/2008/07/yumiharidejima-img600x284-1217325219rdw2iv10119.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Kaoru Matsuzaka&lt;/a&gt;, gadis sebayanya itu berteriak keras di tengah keramaian, melambai-lambaikan tangannya memberitahukan posisi dimana dirinya berada. Haruhi terbuyar dari lamunan sesaatnya, mengerjap pelan dan pada akhirnya berhasil menangkap keberadaan gadis beryukata merah dengan hiasan bunga pink itu di bawah sana (persis satu setengah meter persis dari tepi sungai), berdecak kesal dan melirik gadis&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt; yang tepat berada di sebelahnya. Tampak cantik dalam yukatanya, berbeda jauh dengan Haruhi. Ia hanya menggunakan pakaian &lt;em&gt;biasa&lt;/em&gt;, celana jins dengan atasan &lt;a href="http://i25.tinypic.com/28lvseh.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Henley Shirt&lt;/a&gt; putih polos berkancing tiga dari bagian kerah. Dua kancing atas terbuka. Dan percaya atau tidak, beberapa gadis sempat meliriknya. Berbisik-bisik dan tertawa 'genit' ketika berjalan melewatinya. Tentu saja Haruhi tidak mempedulikannya! Ia bukan tipe tebar pesona seperti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;em&gt;Locksley&lt;/em&gt;? Tsk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Hime memanggil namanya. Bertanya apakah Haruhi baik-baik saja, dan mengapa wajahnya terlihat agak kurang senang bahkan mendekati galak—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Never mind. Kau tahu aku agak sedikit kurang terbiasa dengan keramaian," lirihnya, mengulas senyuman lembut pada kekasihnya, "Then, shall we?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi&lt;em&gt;to&lt;/em&gt; mengulurkan tangan kanannya pada Sang Putri Air, menggenggamnya erat dan berjalan menuruni undakan anak tangga yang terhubung dengan tepi trotoar jalan raya dekat Sumida-gawa perlahan. Menembus lautan manusia yang ada di depannya, sebisa mungkin tak melepaskan genggamannya pada Sang Putri. Entah apa yang membuat Sumida-gawa begitu ramai di akhir Sabtu ini, selain pada faktor bahwa ada Festival Kembang Api tahunan yang telah menjadi tradisi serta pelaksanaan perdana Perlombaan Kembang Api. Oh, ya, libur musim panas. Kenapa dirinya bisa lupa akan hal itu? Kalau diperhatikan baik-baik, kebanyakan dari para pengunjung adalah &lt;em&gt;pasangan&lt;/em&gt;, walau beberapa diantaranya adalah keluarga besar yang sebegitu niatnya menyaksikan percikan api di di angkasa itu sehingga membawa tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sebenarnya Haruhi &lt;em&gt;termasuk&lt;/em&gt; keluarga yang &lt;em&gt;niat&lt;/em&gt; itu. Karena Keluarga Matsuzaka juga ikut. Padahal ia ingin berdua saja dengan Hime. Hitunglah berapa kali kebersamaan mereka hilang akibat pekerjaan yang sangat bertolak-belakang sehingga mereka sangat jarang untuk bertemu? Kekasihnya di St. Mungo, sementara Haruhi di Jepang. Dunia Sihir, Dunia Muggle. Terasa begitu berbeda, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi mengerti kalau Mizuhime Winterfield sangat sibuk, dan seorang Healer memang tidak kenal yang namanya &lt;em&gt;hari libur&lt;/em&gt;. Sekalinya mengunjungi kediaman Winterfield di Jepang, malah adik-adiknya yang ada di rumah. Jangan harap Haruhi diizinkan masuk jika si bungsu Kenichi yang membukakan pintunya! Walaupun Haruhi sedikit maklum karena Kenichi mengidap &lt;em&gt;sister-complex&lt;/em&gt; akut, entah Hime menyadarinya atau tidak. Dan kau pikir Haruhi akan bersusah-payah untuk membujuk &lt;em&gt;calon adik iparnya itu&lt;/em&gt; untuk ramah padanya? NO. Ketahuilah bahwa Haruhi tidak pintar berurusan dengan anak kecil, apalagi tipe Kenichi yang sudah diperlakukan baik namun tetap kekeuh membencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. Pikirkan itu saja nanti, oke, Haruhi? Nikmati saja waktumu bersama Hime sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang sejoli muda itu berjalan (dengan susah payah karena sejauh mata memandang, yang tadinya hamparan rumput hijau sudah tertutupi manusia) mendekati Kaoru yang masih mengulurkan tangannya ke angkasa dan menggoyangkannya semangat, dan Haruhi hanya mendengus kecil melihatnya. Bahkan ia sempat berbisik pelan, "Seperti biasa, tak pernah dewasa," tersenyum tipis. Begitu dirinya dan Hime telah berada tepat di hadapan Kaoru, barulah gadis itu menurunkan tangannya dan tersenyum &lt;em&gt;super-lebar&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Konbanwa, Mizuhime-sama!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya. Kaoru memang belum bertemu Hime hari ini. Haruhi yang menjemput kekasihnya itu langsung dari rumahnya. Bahkan sempat diselingi teriakan &lt;em&gt;rewel&lt;/em&gt; Kenichi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Ayo, duduk! Nanti tempatnya keburu diambil orang, jadinya susah lagi,"&lt;/span&gt; lanjutnya, mendorong Haruhi dan Mizuhime untuk duduk di tempatnya, di atas hamparan tikar berwarna kebiruan terang itu. Sepertinya Kaoru baru saja memakainya untuk ke pantai, karena masih tersisa butira-butiran pasir ketika Haruhi mendudukinya dan meraba permukaannya. Ia memberikan tanda pada Hime untuk tidak duduk dulu dengan tangannya, menepuk-nepuk permukaan tikar yang agak kotor itu pelan seraya berdecak dan melirik tajam Kaoru, "Bersihkan dengan baik jika sudah memakainya, Kaoru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Kaoru &lt;em&gt;nyengir&lt;/em&gt; lebar. Pada akhirnya membantu Haruhi membersihkan permukaan tikar, kemudian mempersilakan Mizuhime untuk duduk, &lt;span style="color: grey;"&gt;"&lt;span style="font-family: times;"&gt;Gomen nee, Mizuhime-sama! Silakan,&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; ujarnya, kemudian ikut duduk di belakang keduanya. Sementara Haruhi menoleh kanan-kiri, mencari keberadaan Hideyuki serta Makiko; orangtua Kaoru. Menatap gadis sebayanya itu dengan alis terangkat, membalikkan badannya, "Dimana yang lain?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Tou-san? Oh, katanya menyusul."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Really?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Oh iya, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;Hanabi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;-nya dimulai jam tujuh—setidaknya, menurut pamflet,"&lt;/span&gt; Kaoru menyerahkan selembar pamflet berisikan informasi Festival Sumida-gawa pada Haruhi, seraya terus &lt;em&gt;menyerocos&lt;/em&gt;, &lt;span style="color: grey;"&gt;"yang ada di pamflet itu bentuk-bentuk dasarnya. Sama daftar peserta lomba perdana—"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"—kanji semua. Dan kau tahu aku masih belum pintar membaca kanji, Kaoru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi &lt;em&gt;masih&lt;/em&gt; tidak bisa membaca kanji, harap diingat. Walaupun sudah genap tinggal 2 tahun di Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;small&gt;*Koko, koko! = Disini, disini!&lt;br /&gt;*Hanabi = Kembang Api&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-4211514613697055388?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/4211514613697055388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/08/asakusa-tokyo-japan-pt11-haruhi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/4211514613697055388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/4211514613697055388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/08/asakusa-tokyo-japan-pt11-haruhi.html' title='Asakusa, Tokyo - Japan — Pt.1.1 (Haruhi)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-1952273921435485266</id><published>2009-06-16T02:46:00.004+07:00</published><updated>2009-06-16T04:09:23.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenichi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Winter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><title type='text'>X-mas Night — Pt. 1 (Mizu-Ken)</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Wah—Ken-chan. Bagaimana dengan Hogwarts? Menyenangkan tidak?”&lt;/span&gt; seorang gadis muda baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa empuk di ruang keluarganya. Ia bertanya pada adik kecilnya yang duduk tepat disamping kanannya. Wajah gadis muda itu memperhatikan dengan seksama wajah adik kecilnya yang sepertinya menyimpan rahasia selama tinggal di Hogwars hingga liburan Natal tiba di hari ini. Kenichi hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil kalau bocah berumur sebelas tahun itu menjawab pertanyaan dari kakaknya kalau Hogwarts itu menyenangkan. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Kau—aku tidak yakin dengan anggukanmu, Ken-chan. &lt;em&gt;Nee&lt;/em&gt;—ceritakan semuanya. Apa ada berita yang tidak menyenangkan dengan Hogwarts? Atau dengan Hufflepuff?”&lt;/span&gt; tanya Mizu dengan merangkul pundak kecil Kenichi. Mr. Winterfield, Mrs. Winterfield dan Hiro pun menatap bersamaan yang tengah duduk di ruang keluarga yang cerah karena lampu kemilau dari pohon Natal milik keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berita buruk bagi Hogwarts ialah berita kematian dua senior Mizu—James Potter dengan istrinya, Lily Evans. Yeah, mereka terbunuh karena perbuatan jahat sang Pangeran Kegelapan, Voldemort. Ugh, keluarga Winterfield memang tidak merasa takut dengan menyebut nama si penjahat bagi dunia sihir maupun dunia Muggle. Dan Mizu menunggu bibir mungil Kenichi yang terkatup rapat agar terbuka dengan menceritakan kejadian di sekolahnya. “Mizu-neechan. Hogwarts sangat menyenangkan—Kenichi bertemu dengan dua senior Mizu-neechan dulu saat sekolah. Senior Evania dan senior Naoko. Dan Kenichi juga sudah punya banyak teman—tidak hanya dari asrama Hufflepuff saja. Gryffindor, Ravenclaw—dan, terkecuali dengan Slytherin. Err—Kenichi sedikit ketakutan jika menyapa anak dari asrama Slytherin,” ucap bocah kecil itu dengan panjang lebar. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Lalu? Teruskanlah ceritamu, nak. Kami menunggu lanjutan ceritamu tentang pengalaman pertamamu tinggal di Hogwarts,”&lt;/span&gt; sahut Mrs. Winterfield dengan tersenyum tenang pada si bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TING TONG!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Pasti dia. Biar aku saja yang keluar,”&lt;/span&gt; ucap Mizu sambil melepaskan rangkulan lengannya di pundak kecil adiknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mizu-neechan duduk saja. Kenichi saja yang keluar—pasti itu tamu &lt;em&gt;daddy&lt;/em&gt;,” ucap Kenichi mantap—yeah, bocah itu berhasil keluar dari lingkaran penasaran keluarganya dengan ceritanya. Ia tidak mau menceritakan Hufflepuff baru saja mendapat musibah dengan berkurangnya poin 600 untuk asramanya. Dan ia tidak mau melihat wajah kekecewaan dari wajah Mizu-neechan, Mr. Winterfield dan Mrs. Winterfield yang merupakan alumni Hogwarts dari asrama Hufflepuff. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Baiklah,”&lt;/span&gt; ucap Mizu pelan sambil melihat Kenichi berlalu dari ruang keluarga untuk keluar rumah. Tapi tidak mungkin Mizu membiarkan Kenichi keluar sendiri dan membuka pagar untuk kekasihnya yang diundang oleh ayah dan ibunya untuk makan malam di malam Natal ini. Gadis berusia sembilan belas tahun itu pun akhirnya mengikuti adik kecilnya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haru-niichan? Kau kenapa kesini? Kukira—tamu ayahku. Ck,” ucap Kenichi dengan mengernyitkan keningnya karena tak percaya kalau orang yang memencet bel rumahnya adalah seorang pemuda Asia, kekasihnya Mizu-neechan. Oh, pantas saja Mizu-neechan semangat ingin membukakan pagar untuk pemuda ini. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Ken-chan—tidak baik kau bertanya seperti itu dan membiarkan Haruhi tetap diluar tanpa membukakan pagar untuknya,”&lt;/span&gt; sahut Mizu dengan berlalu melewati Kenichi dan langsung membuka pagar untuk Haruhi. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Maafkan ucapan adikku, Haruhi—,”&lt;/span&gt; ucap gadis itu dengan tersenyum pada Haruhi dan melirik sekilas pada Kenichi yang cemberut. &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Ayo, masuk,”&lt;/span&gt; ajak Mizu dengan menarik tangan kanan Haruihi dan merangkul pundak Kenichi untuk mengajak masuk ke dalam rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-1952273921435485266?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/1952273921435485266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/06/x-mas-night-pt-1-mizuhime-kenichi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1952273921435485266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1952273921435485266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/06/x-mas-night-pt-1-mizuhime-kenichi.html' title='X-mas Night — Pt. 1 (Mizu-Ken)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-7687832909292588821</id><published>2009-06-14T23:17:00.007+07:00</published><updated>2009-06-16T03:25:14.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Winter'/><title type='text'>X-mas Night — Pt. 1 (Haruhi)</title><content type='html'>Haruhi terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah gadis&lt;i&gt;nya&lt;/i&gt;, tak terhitung lagi sudah berapa kali ia mengunjungi tempat ini. Setiap hari? Tidak tentu saja, dirinya tahu sang gadis kini sibuk dengan pekerjaan barunya dan dirinya sendiri pun juga tak berbeda jauh. Meneruskan bisnis perkebunan keluarga turun-temurun jelas bukanlah suatu pekerjaan mudah. Ia tahu harus banyak belajar dari para pendahulunya, terutama sang kakek. Entah mengapa setiap kali teringat pada keluarganya, bayangan Osamu serta seorang pemuda sebayanya kembali membayang-bayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang hingga saat ini belum terjawab : &lt;i&gt;siapa pemuda yang wajahnya bagaikan pinang dibelah dua dengan Haruhi itu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Agaknya mustahil&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi berdehem pelan, merapikan vest abu-abu dan kemeja di balik &lt;a href="http://i53.photobucket.com/albums/g80/deva_or_sachan/l_p1013083452.jpg"&gt;mantel coklatnya&lt;/a&gt;; sekaligus mengeratkan syal ungu di lehernya. Sesekali ia menghembuskan nafas sehingga mengeluarkan uap-uap putih tipis, menengadahkan kepalanya ke langit dan tersenyum tipis begitu menyadari salju mulai turun perlahan. Ia memasukkan kedua tangannya yang berbalutkan sarung tangan kulit ke dalam saku mantelnya; dimana tangannya yang kanan memegang erat sesuatu ketika itu. Hadiah? Hm, entahlah. Hanya dirinya yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin sebentar lagi, &lt;i&gt;Hime&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik nafas dalam-dalam, Haruhi mengulurkan tangan kirinya dan menekan bel yang ada di pintu gerbang. Dalam hatinya sendiri pun sebenarnya ia masih ragu akan keputusannya kemari untuk memenuhi undangan kedua orang tua gadis&lt;i&gt;nya&lt;/i&gt;, apalagi tanpa sang bibi bersamanya. Larine sendiri sedang dalam keadaan kurang sehat, dan ketika Haruhi bersikeras ingin menemani bibinya, wanita itu malah menyuruh Haruhi pergi. Meninggalkan seseorang yang sakit di rumah sementara kau sendiri bersenang-senang di luar, kedengarannya agak sedikit tidak manusiawi. Dalam satu sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu gerbang belum juga terbuka, dan ini cukup membuatnya khawatir. Tidak seperti biasanya. Kalau bukan Hime yang membuka, pasti salah satu dari kedua adiknya. Atau bahkan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun tak jadi masalah, &lt;i&gt;selama bukan Hime&lt;/i&gt;. Masih terlalu cepat untuk 'itu', bukan, Haruhi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-7687832909292588821?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/7687832909292588821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/06/x-mas-night.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/7687832909292588821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/7687832909292588821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/06/x-mas-night.html' title='X-mas Night — Pt. 1 (Haruhi)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-762973222988511618</id><published>2009-04-30T22:00:00.000+07:00</published><updated>2009-04-25T22:03:20.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1981'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Birthday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><title type='text'>Tanjoubi no Kiseki — Pt. 1.1 (Mizu)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Summer, July 1st 1981.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“OTANJOUBI OMEDETTO, NEECHAN!” teriakan &lt;a href="http://i247.photobucket.com/albums/gg152/mizukairei/TCH/kenchan-siggy-1.jpg"&gt;Ken-chan&lt;/a&gt; nyaring saat Mizu baru saja melangkahkan kaki kanannya turun dari tangga rumahnya. Tepat di ruang keluarga, adik bungsu gadis itu segera memeluk Mizu—dan &lt;a href="http://images.asianfanatics.net/gallery/albums/Japanese-Male/Uchi-Hiroki/duet0808_uchi1.jpg"&gt;Hiro-chan&lt;/a&gt;—adik kandung dibawah Mizu yang beda 3 tahun itu—hanya tersenyum tipis sambil mengucapkan selamat ulang tahun pada Mizu dengan suara yang pelan. “Happy Birthday, Mizu!” ucap dengan serempak dari arah belakang Mizu. Ken-chan pun langsung melepaskan pelukannya dan kini ia pun berdiri disamping Mr. dan Mrs. Winterfield. Mizu segera membalikkan tubuhnya, tersenyum lebar pada dua orang yang ia sayangi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arigatou, kaasan—daddy,” ucap gadis itu yang sekarang genap usianya 19 tahun. Orangtuanya mengangguk kecil menanggapi ucapan gadis mereka yang kini beranjak dewasa. Beranjak dewasa dengan pemikiran yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan semoga kepolosannya menghilang. Beda dengan ulang tahun sebelumnya yang cukup meriah dengan sebuah kue ulang tahun yang langsung diberi oleh Mrs. Winterfield tiap tahun. Di tahun ini, Mizu berasumsi, kedua orangtuanya kini mengajar untuk bersikap dewasa. Mizu sih tidak keberatan tanpa kue ulang tahun di usianya yang ke sembilan belas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pasti ada janji dengan Haruhi dan Yusuke di café pinggir jalan Shibuya, Mizu-chan?” Tanya Mrs. Winterfield dengan tersenyum lembut. &lt;em&gt;God! Kaasan tahu darimana?&lt;/em&gt; batinnya dengan cukup terkejut apa yang diucapkan oleh ibu kandungnya itu. Ken-chan tertawa geli melihat mimik muka Mizu yang seketika berubah. Mizu hanya bisa tersenyum tipis dengan paksa. Jangan bilang kalau Kaasan bisa membaca pikiranku. &lt;em&gt;Dan kenapa Kaasan merahasiakan dariku kalau bisa membaca pikiran orang, eh?&lt;/em&gt; “Yeah, Mizu. Ayah dan ibumu bisa membaca pikiranmu,” sahut Mr. Winterfield sambil mengelus pelan kepala Mizu. Gadis itu hanya mengerjapkan matanya berapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak dulu—dan—,” ucapannya terputus karena Mrs. Winterfield langsung menganyunkan tongkatnya ke arah tubuh Mizu yang sudah berpakaian rapi dengan sebuah gaun musim panas lama miliknya. Ahh—sebuah &lt;a href="http://a1578.e.akamai.net/f/1578/45626/30d/navibird.download.akamai.com/45627/imgshop/411-2009-B/pb/NB912401b_a.jpg"&gt;gaun musim panas berwarna putih selutut yang cantik dengan lengan seperempat&lt;/a&gt; telah menggantikan gaun musim panas yang lama di tubuh gadis itu. “Itu kadomu, nak. Dan anggap saja itu permintaan maaf karena Kaasan dan ayahmu tidak memberitahukan kita bisa membaca pikiran orang lain sejak dulu,” ucap Mrs. Winterfield dengan cepat. “Kau akan lebih cantik lagi dengan—,” ayunan tongkat lagi dari Mrs. Winterfield ke arah rambut. Rambut panjangnya yang tadi polos tanpa aksesoris rambut, kini sudah terpasang dengan rapi sebuah bando berenda yang warna senada dengan gaun musim panasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu lagi,” ayunan tongkat dari Mr. Winterfield ke arah kedua kaki Mizu yang beralaskan &lt;a href="http://www.jildorshoes.com/images/products/ToryBurchRevaBlkPatBlkPat_Front_300.jpg"&gt;flat shoes berwarna hitam&lt;/a&gt;. Well, flat shoesnya kini sudah terganti dengan sebuah &lt;a href="http://www.dancewearinuk.co.uk/acatalog/CORAL_ivory_large.jpg"&gt;high heels tinggi lima sentimeter warna putih&lt;/a&gt;. “Kawaii. Ya kan, Hiro-niichan?” Ken-chan berseru melihat kakak kandungnya yang kini kelihatan lebih manis dengan memakai kado pemberian dari kedua orangtuanya. “Anoo—ini terlalu berlebihan dad, kaasan,” timpal Mizu dengan sungkan, ia melirik sekilas pada Hiro-chan yang mengangguk setuju pada ucapan Ken-chan tadi. “But—thanks,” lanjut Mizu dengan mengucapkan terima kasih pada kedua orang tuanya itu dengan tersenyum lebar. Like a Cinderella story, eh? Yeap—namun ini sangat berbeda—Mizu tidak untuk pergi ke pesta dansa, melainkan ke sebuah café yang menjajakan makan manis seperti Strawberry Shortcake, Cheesecake, Chocolate cake, semacam pastry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus segera pergi,” ucapnya setelah melihat jam tangannya. “Sendiri, neechan?” Tanya Hiro-chan tiba-tiba. Pemuda berusia 16 tahun itu memang pendiam,ia hanya bicara seperlunya. Sifatnya seperti Haruhi. “Tentu saja, Hiro-chan,” jawab Mizu. “Maksudku, tidak diantar oleh Tora-san?” Tanya Hiro-chan lagi. “ Nope. Aku akan ber-apparate menuju sana,” jawab Mizu dengan tersenyum pada adiknya itu dan Hiro-chan hanya diam mendengar jawaban kakaknya itu. “Hati-hati, neechan,” sahut Ken-chan. “Pasti—,” &lt;em&gt;Oh oke. Gang kecil disebelah toko buku&lt;/em&gt;, batinnya. “—Jya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;POFF!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ‘pop’ pelan mengantar kepergian Mizu yang langsung ber-Apparate di depan keluarganya. Transportasi sihir seperti ini sudah ia sering pakai saat pertama kali ia mencobanya ke Hogsmeade tahun lalu di musim dingin. Suara ‘pop’ pelan kembali terdengar saat Mizu ber-dis-Apparate tepat di gang kecil yang bersebelahan dengan toko buku di pinggir jalan Shibuya. Mizu segera keluar dari gang kecil ini setelah mengecek kalau tidak ada yang melihatnya saat kemunculannya tadi. Sambil merapikan poninya yang berantakan karena efek dari ia ber-Apparate tadi—untung saja poninya yang berantakan bukan salah satu anggota tubuhnya yang tertinggal di rumahnya. Oh, jangan sampai seperti itu—Mizu pun berjalan di sepanjang pinggir jalan Shibuya yang sangat ramai di musim panas ini. Shibuya tidak akan pernah sepi di setiap musim hingga tengah malam pun masih cukup ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu segera memasuki café dimana ia akan bertemu kekasihnya, Haruhi dan sahabat terbaiknya, Yusuke disini. Seorang pelayan café ini segera menyambut Mizu dengan ramah dan menanyakan Mizu mau duduk dimana. Sebelum menjawab, kedua bola matanya mencari sosok dua pemuda itu. Mizu merasa kalau ia cukup telat karena acara kecil di rumahnya tadi. Sosoknya sudah ia temui, Haruhi ternyata yang datang duluan. Mizu pun menjawab pada pelayan café tersebut kalau ia akan duduk bersama pemuda itu. Pelayan café itu hanya menanggapi dengan tersenyum kecil—Mizu lalu segera mendekati Haruhi dan menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haruhi—gomen. Aku telat,” ucapnya pelan dengan nada bersalah. Mizu lalu membungkukkan tubuhnya. Kecupan pelan dan manis tepat di pipi kanan Haruhi. Mizu segera memalingkan wajahnya dan dengan cepat ia duduk di hadapan kekasihnya itu. Ia hanya tersenyum manis di depan Haruhi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-762973222988511618?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/762973222988511618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/tanjoubi-no-kiseki-pt-11-mizu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/762973222988511618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/762973222988511618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/tanjoubi-no-kiseki-pt-11-mizu.html' title='Tanjoubi no Kiseki — Pt. 1.1 (Mizu)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-1669100845325052651</id><published>2009-04-29T18:59:00.001+07:00</published><updated>2009-04-29T19:04:36.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Intro'/><title type='text'>Biodata Karakter</title><content type='html'>&lt;strong&gt;[Nama -- Panggilan]:&lt;/strong&gt; Haruhi Kumayuki (孟ひ)-- Haruhi, Haru-chan (hanya untuk ibunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Status Darah]:&lt;/strong&gt; Pureblood dengan golongan darah O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tempat dan Tanggal Lahir]:&lt;/strong&gt; Kanada, 7 Mei 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Suku Bangsa Karakter]:&lt;/strong&gt; Jepang murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Asrama]:&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:green;"&gt;Slytherin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tahun Masuk Hogwarts]&lt;/strong&gt;: 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Peliharaan]&lt;/strong&gt;: Kucing Anggora bernama &lt;a href="http://i33.tinypic.com/mwwdbq.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Putih&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Tongkat sihir]:&lt;/strong&gt; Kayu Willow 34 sentimeter dengan inti Ekor Chimaera dan Nadi Naga Peruvian Tooth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Sapu terbang]:&lt;/strong&gt; None.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Posisi di Tim Quidditch]:&lt;/strong&gt; Tak ada dan tidak berminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:14;" &gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ayah]:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://i33.tinypic.com/30b2vj5.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Shogun Kumayuki&lt;/a&gt;, Pureblood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Ibu]:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://i34.tinypic.com/2m5f7rk.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;'Haruhi' Kumayuki&lt;/a&gt; (春ひ), Pureblood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Nama Saudara]:&lt;/strong&gt; Tidak punya saudara kandung.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="display: none;"&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i38.tinypic.com/vpi0k2.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Hiroki Kumayuki&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, Kakek dan kepala keluarga Kumayuki selama 3 generasi)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i36.tinypic.com/2akcsq8.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Akane Kumayuki/Akamiko&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, Nenek, Istri pertama Hiroki)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i35.tinypic.com/2nvf52w.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Yukiko Kumayuki/Yamada/Takahashi&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, Istri kedua Hiroki)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i36.tinypic.com/2uizz49.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Nobu Kumayuki&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, putra kandung Hiroki dari Akane dan ayah 'Haruhi')&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i36.tinypic.com/112fzg2.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Ryotaro Kumayuki/Yamada/Takahashi&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, putra tiri Hiroki dari Yukiko, ayah dari Shogun)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i34.tinypic.com/2m3ijvk.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Kenzo Kumayuki&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, putra kandung Hiroki dan Yukiko, ayah dari Larine)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i33.tinypic.com/xbg47n.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Helina Kumayuki&lt;/a&gt;, R.I.P. (Pureblood, adik kandung 'Haruhi')&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i36.tinypic.com/16ishgw.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Osamu Kumayuki&lt;/a&gt; (Pureblood, putra dari Kenzo dan kakak dari Larine)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://farm4.static.flickr.com/3075/2722305678_67fd894135.jpg"&gt;Daiki Kumayuki&lt;/a&gt; (Pureblood, putra angkat Osamu)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://i36.tinypic.com/54abkm.png" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Larine Kumayuki&lt;/a&gt; (Pureblood, putri dari Kenzo dan bibi angkat dari Haruhi)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Latar Belakang Keluarga]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sedang disusun saking panjangnya -.-a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:14;" &gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Personaliti Karakter]&lt;/strong&gt;: Ambisius, pendiam, datar dan ketus. Bicara seperlunya dan tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya. Sorot matanya jika sedang sendirian sering menunjukkan rasa kesepian, kepada orang lain ia tidak pernah menunjukkan sorot mata ini. Tidak pernah berkata tulus selain kepada bibinya, Larine, dan Mizuhime. Haruhi mencintai gadis itu sama seperti bibinya, dan bertekad tidak akan melibatkan gadis itu dalam masalah keluarganya yang cukup rumit. Mudah cemburu pada Mizuhime yang ia panggil dengan nama kesayangan &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt; dan tidak mau ada orang lain yang memanggilnya begitu selain dirinya. Agak tertutup pada orang yang tidak ia kenal dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[Bakat dan Kekurangan]:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbakat menggambar komik dan sebenarnya bercita-cita jadi komikus. Dalam pelajaran sihir, lumayan berbakat dalam PTIH dan ramuan serta mantra. Tidak terlalu menyukai Arithmancy. Kelemahannya ada pada sorot mata Larine dan Mizuhime karena dua orang itu membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-1669100845325052651?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/1669100845325052651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2008/04/biodata-karakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1669100845325052651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/1669100845325052651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2008/04/biodata-karakter.html' title='Biodata Karakter'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-5744332760437962667</id><published>2009-04-25T21:19:00.003+07:00</published><updated>2009-06-16T03:27:29.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Osamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Strangers — Pt. 1.3 (Osamu-Haruhi)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: left;"&gt;&lt;big&gt;Gerbang Masuk Kediaman Kumayuki, Pagar Utama&lt;br /&gt;09:15 AM, Heavy Raining Outside&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;(&lt;a href="http://i36.tinypic.com/16ishgw.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Osamu Kumayuki&lt;/a&gt; Side)&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini si &lt;em&gt;pewaris cilik&lt;/em&gt; kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tsk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osamu mendengus pelan ketika pemuda di hadapannya itu balik bertanya. Memangnya siapa lagi yang dicarinya, eh? Pria di usia pertengahan tigapuluhya itu sama sekali tidak punya tujuan lain selain bertemu dengan si tuan cilik—siapa namanya tadi? &lt;em&gt;Haruhi?&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;HA!&lt;/strong&gt; Izinkan Osamu terbahak sekeras mungkin karena sama sekali tidak menyangka akan ada lagi Haruhi lain disini. Well, nama yang terdengar serupa dengan sepupu tirinya—ah, ya, &lt;em&gt;ibu&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;si cilik&lt;/em&gt; di hadapannya ini. Wanita yang selalu dilindungi oleh adik kandung Osamu, Larine, hingga berani mempertaruhkan nyawanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali—&lt;em&gt;'Haruhi'&lt;/em&gt; harus mati di tangan keluarga Osamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Di tangan dingin &lt;em&gt;sisi lain&lt;/em&gt; Kumayuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tidak tahu? Keluarga Osamu-lah yang &lt;u&gt;menghabisi&lt;/u&gt; kedua orang tua Haruhi. Termasuk semua anggota keluarganya. Bahkan Osamu tidak segan menghabisi kakeknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang kau bertanya mengenai kematian Shogun di Azkaban? Oh, berikan tepuk tangan yang meriah pada Osamu Kumayuki, si pembunuh berdarah dingin di strata teratas aliansi-rahasia pemuja kekayaan ini—karena berhasil menyusup dan menghindar dari para Dementor sialan, walaupun sempat gagal di awal percobaan. Menghabisi Shogun cukup mudah sebenarnya : rapalkan &lt;em&gt;Avada Kedavra&lt;/em&gt;, and DONE! Tidak akan ada tanda kematian sedikitpun yang tertinggal. Paling-paling dicurigai terkena serangan jantung layaknya penyakit muggle, walau tak sedikit orang pintar menyangka bahwa kematian tersebut adalah hasil dari Kutukan-Tak-Termaafkan. Perfect, isn't it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Seperti yang kau dengar dari pengacaramu yang keras kepala ini, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;tuan-muda&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;—,"&lt;/span&gt; nada yang keluar darinya terdengar sinis—luar biasa sinis dengan penekanan di kata 'tuan-muda', &lt;span style="color:grey;"&gt;"—aku memang mencarimu. Dan ya—sebagai sebuah &lt;em&gt;permulaan&lt;/em&gt;, kurasa aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu. Walau pada dasarnya aku tak suka berbasa-basi,"&lt;/span&gt; ujung bibir kirinya tertarik ke atas, terlihat begitu menakutkan dan sinis. Matanya memancarkan tatapan luar biasa tajam—seakan bisa langsung membunuh apa yang mengganggunya tanpa pandang bulu. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Osamu Kumayuki—,"&lt;/span&gt; pria muda itu menyilangkan tongkat sihir dalam genggamannya ke dada kiri seraya membungkuk kecil, lalu bangkit lagi seraya melirik ke arah Matsuzaka. Lihatlah bagaimana ekspresi pria setengah baya itu sekarang ketika mendengar nama marganya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"—yeah, Matsuzaka. &lt;em&gt;Your young-master is not the only-one Kumayuki on Earth&lt;/em&gt;,"&lt;/span&gt; kekeh Osamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matsuzaka hanya bisa terpaku di tempatnya, sekarang memegangi kepalanya. Bisa dipastikan bahwa dirinya seolah dihantam batu besar ketika mendengar perkenalan diri Osamu, yang ternyata adalah salah seorang Kumayuki lainnya—&lt;em&gt;dan tidak pernah ada dalam catatan silsilah keluarga Kumayuki yang dipelajarinya selama ini&lt;/em&gt;. Bertahun-tahun di bawah naungan keluarga besar itu dan tidak mengetahui &lt;em&gt;sisi lain&lt;/em&gt; Kumayuki adalah kegagalan terbesar Matsuzaka sebagai seorang pengacara kepercayaan. Mengapa data-data yang berkaitan dengan hal ini tidak pernah ditemukan dirinya sebelumnya? Seolah ditelan bumi begitu saja. Mungkin inilah salah satu dari sekian banyak pembuktian kekuasaan Kumayuki—bahwa mereka punya pengaruh tersendiri di kalangan 'orang penting' Jepang sehingga bisa menghilangkan bukti-bukti mengenai silsilah gelap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum yang ada di wajah Osamu sekarang tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seakan menunjukkan sebuah senyum kemenangan, walau sudah jelas belum sah dan secara mutlak milik dirinya sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Well-well-well, look what we've got here—,"&lt;/span&gt; Osamu mengerling ke arah gadis ber-yukata hijau yang kini sudah berada di sisi kiri Haruhi. Sementara itu si Matsuzaka tengah menarik paksa mundur putrinya tanpa bicara apapun, yang masih berada di depan Osamu dengan kedua tangan terbuka—masih bersikeras ingin menghalanginya mendekati Haruhi serta si gadis Yukata. Osamu kembali terkekeh, memberikan tatapan meremehkan pada gadis di depannya itu, &lt;span style="color:grey;"&gt;"&lt;span style="font-family:times;"&gt;Tidak mau mingir, eh?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; senyumnya sakartis dengan tangan mengayunkan tongkat ke arah si gadis, dan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;em&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;BRAKKK!!&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"KAORU!!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh gadis malang itu terhempas dan menabrak pintu gerbang kayu rumah keluarga Kumayuki, menghancurkan benda itu hingga berkeping-keping. Kaoru sendiri terlempar begitu saja ke arah pekarangan halaman, terkapar tak berdaya dengan puing-puing kayu ikut berada di sisinya. Tidak jelas apakah dirinya terluka atau tidak, namun melihat hal itu sudah cukup membuat Matzusaka shock berat sehingga secara tidak sadar memanggil nama putrinya ketika peristiwa itu terjadi. Begitu cepat! Dan kakinya tiba-tiba gemetar cukup kuat, bukti bahwa dirinya lemas seketika melihat keadaan putrinya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"&lt;span style="font-family:times;"&gt;Peringatan pertama dariku, Matsuzaka,&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; Osamu melirik pria tua berjarak tak jauh darinya itu dari sudut matanya dan berkata dengan nada mengancam, &lt;span style="color:grey;"&gt;"&lt;span style="font-family:times;"&gt;jangan IKUT CAMPUR urusanku dan si tuan-mudamu ini atau kau akan menerima perlakuan yang sama.&lt;/span&gt; Ini juga berlaku untuk gadis di sebelahmu,"&lt;/span&gt; senyum Osamu dengan mimik tak terjelaskan—entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tongkatnya lagi-lagi teracung, sebuah lengkunan bibir sarkatis tercipta kembali di wajah tampannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sekali ayunan cepat, si gadis ber-yukata hijau tak ada lagi di sisi Haruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terhempas ke tempat yang sama dimana Kaoru berada&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Aku mencarimu, dan itu berarti—aku punya urusan denganmu. &lt;em&gt;Hanya denganmu&lt;/em&gt;."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-5744332760437962667?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/5744332760437962667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/strangers-pt-13-haruhi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/5744332760437962667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/5744332760437962667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/strangers-pt-13-haruhi.html' title='Strangers — Pt. 1.3 (Osamu-Haruhi)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-2550159544173212571</id><published>2009-04-25T21:18:00.002+07:00</published><updated>2009-04-25T22:00:17.415+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Strangers — Pt. 1.2 (Mizu)</title><content type='html'>Tidak membalas senyuman yang Mizu berikan pada seorang laki-laki dewasa bertudung hitam. Itu menandakan kalau pria disebelahnya adalah seorang pria yang tidak ramah. Mizu mengerucutkan bibirnya—cukup kesal karena senyumannya tidak dibalas. Kedua bola matanya kembali beralih pada pagar kayu besar di hadapannya menunggu siapapun yang membuka pagar kayu yang kokoh ini. Hujan semakin deras—gadis itu melirik ke sampingnya, melihat pria bertudung itu mengayunkan tongkat sihir yang memutari tubuhnya. Hanya beberapa detik saja, semua atribut pakaiannya mengering. Sudah hal biasa dilihat oleh gadis lulusan Hogwarts itu—tapi, Ya Tuhan, Mizu lupa kalau ia sudah cukup umur untuk bisa menggunakan sihir di dunia Muggle. &lt;em&gt;Ck! Payah!&lt;/em&gt;gerutu gadis itu di dalam hatinya. Ia pun mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam tas tangannya, akan tetapi sebelum tongkat itu ia ayunkan ke seluruh tubuhnya, ia mendengar suara-suara pintu akan segera dibuka di depannya. Mizu menghentikan, sudah kepalang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar kayu besar nan kokoh itu sudah terbuka. Hanya memperlihatkan seorang pria dewasa yang segera berbicara ketus pada pria bertudung disamping Mizu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt; "Pergilah. Haruhi-sama sama sekali tidak memiliki urusan denganmu—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, jelas dia punya urusan denganku, Matsuzaka-san."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkat sihir milik pria bertudung hitam itu teracung jelas pada pria yang bernama Matsuzaka itu. Mizu memundurkan langkahnya, tongkat Oak-nya ia sembunyikan dibalik Yukata belakangnya. Tidak mau ambil gegabah sebenarnya apalagi ikut campur dengan urusan kedua pria itu. Tapi—dari ucapan mereka, kalau pria bertudung ingin sekali bertemu dengan Haruhi. Siapa dia? Setahu Mizu, keluarga Haruhi tinggalah seorang. Bibi Larine Kumayuki—yeah, hanya wanita itu saja yang Mizu ketahui. Kalau pria bertudung itu bukan keluarganya, lalu apa hubungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt; "panggilkan tuan-mudamu itu. Aku hanya ingin memberikan sambutan kecil,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"JAUHKAN TANGANMU DARI AYAHKU!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara anak perempuan berteriak cukup keras di tengah hujan yang masih deras. &lt;em&gt;Ayah?&lt;/em&gt; Mizu mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang gadis manis yang sudah berdiri di samping Mr. Matsuzaka. &lt;em&gt;Si-siapa dia?&lt;/em&gt; Sebuah pertanyaan terlontarkan di dalam hatinya. &lt;em&gt;Saudara perempuan Haruhi? Dan Matsuzaka itu paman Haruhi?&lt;/em&gt; Gadis yang berteriak itu tidak mau kalah—ia pun mengacungkan tongkat sihir miliknya ke arah pria bertudung besar itu. Cukup rumit tanpa mengetahui duduk permasalahannya. Mizu disini bukan siapa-siapa mereka, tapi Mizu kesini memang tidak sengaja memberitahu kekasihnya untuk berkunjung kerumahnya. Bilang saja kalau ini sebuah kejutan, Mizu bisa pergi sendiri, mencari alamat rumahnya dengan sendiri tanpa bantuan Tora-san, yang sering mengantar Mizu pergi setiap kali. Dan hanya bermodal alamat dan keberanian karena rumah Haruhi cukup jauh dari Akihabara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well. Kunjungan kali ini sepertinya tidak sempurna—melainkan sebuah kekecawaan bagi Mizu karena, oke, pria bertudung itu. Gadis itu kemudian hanya berdiam diri—tidak tahu apa yang dilakukan. Membuat mereka untuk tidak bertengkar dengan dua tongkat teracung di hadapan mereka masing-masing, eh? Itu hanya cari mati. Dan mencari masalah pada pria bertudung yang tidak ramah itu. Niat untuk kembali ke rumah sepertinya ide yang bagus—lagipula Haruhi, kekasihnya saja tidak terlihat sejak tadi. Mizu pun menganyunkan tongkat sihirnya ke seluruh tubuhnya, memantrai dirinya untuk tidak kehujanan selama ia berjalan pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt; "Akhirnya kau muncul juga—&lt;em&gt;tuan cilik&lt;/em&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu mengalihkan pandangannya setelah memasukkan tongkat sihirnya kembali ke dalam tas tangannya dan akan bersiap untuk meninggalkan kediaman kekasihnya ini saat suara parau pria bertudung itu mengucapkan &lt;em&gt;tuan cilik&lt;/em&gt;. Kekecewaan Mizu berkurang karena telah melihat kekasihnya tepat disebelah gadis muda itu. Mizu tersenyum lebar pada Haruhi. Senang karena yang ia cari akhirnya muncul. Pemuda itu menatap Mizu sambil berbicara pelan pada gadis disampingnya untuk membawa Mizu masuk ke dalam rumahnya. Mizu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia menolak ajakan gadis muda itu untuk masuk ke dalam rumah saat kekasihnya masih di luar rumah. Gadis itu segera beranjak di samping Haruhi. Memeluk tangan kiri kekasihnya itu dan menatap lurus dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa pria bertudung itu, Haruhi? Masih keluargamu juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbisik. Hanya Haruhi seoranglah yang bisa mendengar bisikan dari Mizu yang bertanya di tengah hujan yang masih turun cukup deras.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-2550159544173212571?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/2550159544173212571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/strangers-pt-12-mizu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/2550159544173212571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/2550159544173212571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/04/strangers-pt-12-mizu.html' title='Strangers — Pt. 1.2 (Mizu)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-6981226208473306952</id><published>2009-03-23T02:03:00.005+07:00</published><updated>2009-06-16T03:27:02.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Osamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Strangers — Pt. 1.2 (Osamu)</title><content type='html'>&lt;big&gt;Gerbang Masuk Kediaman Kumayuki, Pagar Utama&lt;br /&gt;09:10 AM, Still Raining Outside&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;(&lt;a href="http://i36.tinypic.com/16ishgw.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Osamu Kumayuki&lt;/a&gt; Side)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan semakin turun dengan deras. Tentu saja hal ini membuat Osamu agak sedikit kesal—mengapa para pelayan bodoh itu tidak mempersilakannya masuk saja, eh? Atau perlu ia ber-Apparate sekarang juga? Noes, itu terlalu &lt;em&gt;kasar&lt;/em&gt; sebagai &lt;em&gt;penyambutan&lt;/em&gt;. Yeah, penyambutan selamat datang pada pewaris cilik itu. Keturunan laki-laki terakhir di generasi ke-21—&lt;em&gt;katanya&lt;/em&gt;. Osamu, pria di usia ketigapuluhnya itu mendengus. Pada kenyataannya, masih ada generasi ke-20. &lt;em&gt;Osamu sendiri&lt;/em&gt;, namun namanya tak pernah tercatat dalam surat warisan keluarga. Dihapuskan secara tidak terhormat, tepatnya. Ia tahu betul dirinya masih berhak atas aset jutaan Yen itu—setidaknya, di dalam tubuhnya juga mengalir darah Kumayuki. Begitu pula dengan adiknya, Larine—kemana gadis itu sekarang? Terakhir yang Osamu dengar, adiknya itu membunuh kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kau tidak salah dengar. &lt;em&gt;Membunuh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osamu berdecak kesal, hujan ternyata tidak berhenti. Segera saja pria itu memakaikan tudung jaket hitam ke kepalanya yang berambut tipis, kemudian berteduh di bawah atap kecil pagar utama. Ia masih setia berdiri tepat di depan pintu kayu besar nan kokoh itu—berharap si &lt;em&gt;pewaris cilik&lt;/em&gt; sudi untuk menemuinya. Anggap saja sebagai &lt;em&gt;perkenalan&lt;/em&gt; dan babak awal dari apa yang sudah Osamu rencanakan sejak dulu. &lt;em&gt;Bahkan sejak ia masih belia.&lt;/em&gt; Pertama kali ia mendengar bahwa &lt;em&gt;kakeknya&lt;/em&gt; memiliki cicit laki-laki, Osamu sudah bertekad akan merebut harta itu dari tangannya. Pembalasan karena keluarganya, &lt;em&gt;sisi lain&lt;/em&gt; Kumayuki, tidak mendapatkannya. Osamu sudah cukup ambisius dengan apa yang diceritakan ayah dan ibunya, belum lagi dengan deretan pelecehan yang dilakukan oleh sang kakek dan istri pertamanya—yeah, nenek Osamu adalah istri kedua. Keberatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang kau tahu mengapa nama Osamu dicoret dari daftar warisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria jangkung itu kembali berdecak kesal di bawah bayang tudung yang dikenakannya. Sesekali ia menepuk beberapa bagian pakaiannya yang basah. Jubah dan jaketnya—sepertinya hampir tidak terselamatkan. Pada saat seperti inilah sihir sangat berguna—&lt;em&gt;don't you think so?&lt;/em&gt; Osamu mengembangkan senyumannya di ujung bibir, mengeluarkan tongkat sihir Eldernya. Namun, perhatiannya teralihkan pada suara berisik cipratan air, sepertinya berasal dari posisi yang tak jauh darinya. Ia menoleh, matanya memicing—dan tak perlu waktu lama bagi otaknya untuk segera mengidentifikasi sosok apa yang semakin mendekat. &lt;em&gt;Wanita.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis, tepatnya, dalam balutan yukata hijau mudanya—dan basah kuyup. Sebisa mungkin Osamu tidak mengindahkan gadis tersebut yang kini telah berada di sebelahnya, bahkan sempat memberikan senyuman. Yeah, senyuman—sudah berapa lama Osamu tak tersenyum &lt;em&gt;tulus&lt;/em&gt; seperti itu? Lama sekali, mungkin belasan tahun yang lalu. Osamu sudah lupa bagaimana caranya tersenyum &lt;em&gt;dengan baik&lt;/em&gt;, dan jangan salahkan siapapun soal ini. Ia kembali fokus pada tongkat sihirnya, sekali lagi tidak mempedulikan gadis tersebut sekaligus tak membalas senyumannya. Diayunkannya benda itu mengitari tubuhnya, dan tak perlu makan waktu tiga detik untuk mengeringkan pakaiannya. Non-verbal, as always. Ia kembali menatap lurus pintu kokoh di depannya, memasukkan tongkat sihir kembali ke saku jaket depannya kemudian memasukkan kedua tangannya, tepat setelah merapatkan tudung jaketnya. Ia menggenggam erat tongkat di dalam sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osamu mendengus—&lt;em&gt;lagi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Where are you, cowardly dog?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;--------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Koridor Depan Kediaman Kumayuki&lt;br /&gt;09:11 AM, Heavy Raining Outside&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;(&lt;a href="http://i41.tinypic.com/1zbrkef.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Haruhi Kumayuki&lt;/a&gt; Side)&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"Tou-san, HAYAKU!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; teriak Kaoru dengan panik, mengambil payung plastik transparannya dari tempatnya di dekat rak sepatu. Hideyuki memakai bakiaknya dengan agak sedikit terburu-buru, melirik istrinya yang memasang wajah agak sedikit kebingungan. Kaoru menggeser pintu utama untuk membukanya pada akhirnya, mengakibatkan suara derasnya air hujan yang jatuh ke permukaan bumi begitu jelas terdengar. Makiko mengisyaratkan putrinya untuk menutup pintu, namun Kaoru tidak mempedulikannya. Kesal karena sang ayah &lt;em&gt;begitu lama&lt;/em&gt; (pakai pilih payung segala?! YA TUHAN), segera ditariknya pria setengah baya itu dengan paksa keluar dari koridor depan, meninggalkan Makiko dan Haruhi yang baru saja tiba disana. Ia melirik wanita yang ada di sebelahnya sekilas, turun dari koridor dan memakai bakiaknya, langsung asal mengambil payung yang ada di tempatnya dan berlari mengejar kedua Matsuzaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi-penasaran-setengah-mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu sekitar beberapa menit untuk mengejar keduanya, karena jarak antara gerbang depan dengan pintu utama ternyata cukup jauh. Percikan-percikan air yang membasahi celana jins maupun kakinya yang hanya beralaskan bakiak, tidak dipedulikannya. Dengan sedikit berhati-hati karena jalan setapak yang dilaluinya mulai licin, Haruhi masih terus mengejar keduanya dengan setengah berlari. Payung yang digunakannya saat ini ternyata tak terlalu berpengaruh banyak karena hujan semakin deras saja. Langkahnya terhenti tepat di sebelah Kaoru, di depan gerbang pagar utama yang telah terbuka lebar. Tampaknya Hideyuki baru saja membukanya, dan entah kenapa ekspresi wajahnya terlihat kurang begitu menyenangkan. Kaoru sendiri berada setengah meter dari punggung ayahnya, menarik lengan baju Haruhi untuk menariknya mundur begitu tahu tuan-mudanya itu nekat mendekat ke Hideyuki. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Haruhi-sama, jangan kesana! Biarkan Tou-san yang mengatasinya!"&lt;/span&gt; ujar Kaoru dengan suara pelan, mengerling pada Hideyuki. Haruhi mengernyitkan dahinya : bingung sekaligus penasaran. &lt;em&gt;Ada apa sebenarnya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt; tidak perlu bertemu denganmu,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ujar Hideyuki dengan nada begitu datar, sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan beberapa menit yang lalu. Terlihat pria itu tengah berbicara dengan seseorang bertudung hitam, tak ada tanda-tanda bekas air hujan membasahinya. Hideyuki menatap tajam sosok di depannya yang ternyata seorang pria, namun daritadi menyembunyikan wajahnya di balik tudung. Ditariknya nafas dalam seraya menutup sebagian pintu gerbang, berusaha untuk tidak membuka sedikitpun kesempatan pada pria bertudung masuk ke dalam wilayah kediaman tuan-mudanya. Sekaligus mencegah agar tak ada satupun hal yang tak diinginkan terjadi padanya, &lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"Pergilah. Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt; sama sekali tidak memiliki urusan denganmu—"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"Oh, jelas dia punya &lt;em&gt;urusan denganku&lt;/em&gt;, Matsuzaka-san,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hideyuki agak terperanjat karena mendengar namanya tersebut padahal tak pernah menyebutkannya pada sosok itu, yang kini terkekeh pelan, &lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"kau terkejut? Kurasa wajar,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; lanjut sosok tinggi dan kekar itu dengan kedua tangan masih tetap di saku jaketnya. Tak ada tanda-tanda bahwa yang bersangkutan berencana menyerang serta menyakiti Hideyuki, namun tetap saja harus waspada. Entah apa yang akan dilakukan si pria bertudung itu jika Hideyuki lengah. Lihat saja sekarang, sebuah tongkat panjang telah mengacung tepat ke arah leher Hideyuki, pertanda bahwa si empunya benar-benar serius dengan makusdnya dan tak akan segan memantrai korbannya. Hideyuki berusaha untuk tetap tenang di bawah ancaman si pemilik yang kini kembali tertawa, &lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"Aku tak segan memantraimu walau sebenarnya ini membuang-buang waktu dan tenagaku. Yah, kau bukan &lt;em&gt;tujuan utamaku&lt;/em&gt; kemari,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ujarnya seraya mengerling si gadis Yukata yang berada tak jauh darinya, &lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"panggilkan tuan-mudamu itu. Aku hanya ingin memberikan &lt;em&gt;sambutan kecil&lt;/em&gt;,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; senyumnya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hideyuki tak bisa berbuat apapun. Tongkat sihirnya tidak bersamanya kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;"JAUHKAN TANGANMU DARI AYAHKU!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan Kaoru sudah menghilang dari sisi Haruhi dan berpindah ke sebelah ayahnya. Gadis itu tengah mengacungkan tongkat Birch miliknya ke arah si pria bertudung dengan penuh amarah. Siapa yang tidak marah jika ayahmu diperlakukan demikian? Haruhi akhirnya berjalan mendekat ke gerbang, dengan payung yang masih setia meneduhinya. Matanya menangkap sosok pria besar bertudung hitam berada disana, mengacungkan tongkat sihirnya pada Hideyuki tepat di leher sementara Kaoru juga melakukan hal yang sama. Haruhi semakin mengernyitkan dahinya : benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Ia ikut mengeluarkan tongkat sihirnya, berjalan perlahan mendekat pada si pria bertudung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, langkahnya terhenti karena menangkap sebuah sosok lain di matanya begitu melangkah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hime.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt;!"&lt;/span&gt; ucap Kaoru refleks begitu menyadari tuan-mudanya telah berada di dekatnya, begitu pula dengan Hideyuki. Pria setengah baya itu terbelalak, &lt;span style="color:grey;"&gt;"Haruhi-sama—! Bukankah saya sudah melarang anda untuk keluar?!"&lt;/span&gt; ujarnya sedikit panik. Haruhi hanya tersenyum kecil mendengarnya. &lt;em&gt;Jangan harap aku akan menurut&lt;/em&gt;. Si pria bertudung tersenyum sarkatis, menurunkan tongkat sihirnya dan beralih pada Haruhi. Tongkat sihir Kaoru yang teracung segera ditepisnya (tongkat beradu tongkat), menyuruh gadis itu menyingkir dari hadapannya namun Kaoru tidak mau. Ia malah meregangkan tangannya seolah berusaha menghalangi si pria bertudung mendekat pada Haruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Akhirnya kau muncul juga—&lt;em&gt;tuan cilik.&lt;/em&gt;"&lt;/span&gt; senyumnya misterius. Tongkat sihir masih berada di genggamannya, dan Haruhi tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya. Ia tahu betul bahwa pria di depannya ini pasti mencarinya, dan apapun itu, tak boleh ada yang terlibat lebih jauh. Biarkan Haruhi yang menyelesaikan urusannya dengan pria bertudung ini. "Kaoru," Haruhi melirik sekilas gadis itu, kemudian beralih pada &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt;, "bawa gadis itu masuk," bisiknya, seraya memberikan tatapan penuh arti pada kekasihnya yang berbalutkan Yukata hijau muda itu. Cantik seperti biasanya. Tapi bukan waktunya bagi Haruhi untuk menyampaikan kata pujian itu pada Mizuhime Winterfield saat ini. &lt;em&gt;Mungkin nanti&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mencariku, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Haruhi tidak tahu apa yang menantinya setelah ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-6981226208473306952?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/6981226208473306952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/strangers_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6981226208473306952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6981226208473306952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/strangers_23.html' title='Strangers — Pt. 1.2 (Osamu)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-6950875822483852013</id><published>2009-03-23T01:59:00.006+07:00</published><updated>2009-04-25T21:59:46.362+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Strangers — Pt. 1.1 (Mizu)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Aku pergi dulu ya, Oka-san.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mizu—kau mau kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A—aku, mau ke &lt;em&gt;Bunkasai&lt;/em&gt; dengan Yuki, Toru, Hana dan Yota. Bolehkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja boleh, Mizu. Tapi, apa tidak terlalu pagi? Hari masih pukul delapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iie. Ah—aku harus segera pergi. Jya ne!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jya! Hati-hati dijalan, nak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Fiuh. Oka-san tidak curiga padaku. Gomen, Ka-san. Gomen ne. Ka-san pasti mengerti kalau aku cukup pemalu untuk mengutarakan keinginanku untuk berkunjung ke rumah Haruhi.&lt;/em&gt; Gadis yang terpaksa harus menggunakan Yukata berwarna hijau muda dengan corak bunga besar di Yukata-nya, harus berjalan kaki cukup jauh setelah turun dari taxi yang ia tumpangin. Daerah rumah Haruhi hanya boleh dilewati mobil kendaraan pribadi—kendaraan umum sangat dilarang untuk bisa memasuki wilayah sekitar rumah kekasihnya. Tangan kanannya telah tergenggam sebuah kertas berukuran kecil yang bertuliskan alamat rumah kediaman Kumayuki yang diberikan secara langsung oleh Haruhi sendiri saat tiba di Jepang dua hari yang lalu. Kata sang supir taxi—Mizu harus berjalan lurus hingga ada pertigaan kemudian berbelok kanan dan belok kiri. Nah, disana rumah keluarga kediaman Kumayuki berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup rumit berjalan jauh dengan &lt;em&gt;geta&lt;/em&gt;. Gadis itu merutuk dalam hatinya karena menyesal memakai &lt;em&gt;Yukata&lt;/em&gt; yang pastinya harus memakai &lt;em&gt;geta&lt;/em&gt; sebagai alas kakinya. Rambutnya panjangnya sengaja tidak ia sanggul, karena tidak wajib bagi seorang gadis saat memakai &lt;em&gt;Yukata&lt;/em&gt; harus menyanggul rambutnya. Ya, bersabarlah, pertigaan tidak terlalu jauh. Sambil berjalan—Mizu melirik pada jam tangannya, hari ini sudah menunjukkan pukul Sembilan kurang sepuluh. Musim panas—namun, cuaca mendung di daerah Chofu-shi. Ia sama sekali tidak membawa payung—karena Mizu tidak menduga kalau cuaca akan mendung. Tuhan sepertinya marah karena Mizu tidak berkata jujur pada ibu kandungnya. Gadis itu tetap berjalan—kini ia berbelok kanan setelah ia sampai di pertigaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintik hujan mulai turun dari permukaan awan. Mizu mempercepat langkahnya—takut kalau basah kuyup jika hujan semakin lebat. Kini ia berbelok kiri—kedua bola matanya kini membaca sekali lagi alamat kediaman Kumayuki. Ah—terpampang jelas sebuah tulisan kanji di salah satu sudut tembok luar rumah berwarna putih tulang, kalau rumah itu adalah kediaman keluarga Kumayuki. Segera Mizu memasukkan kertas kecil yang berisikan alamat rumah Haruhi ke dalam tas kecilnya yang ia tenteng sedari tadi. Sangat terkejut—karena Mizu bisa melihat dari luarnya saja, kalau dalam rumh kediaman Kumayuki bisa dibilang sangat luas. Oh, pantas saja kendaraan umum tidak boleh memasuki wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan semakin lebat—Mizu akhirnya bisa menemukan di mana pagar utama rumah itu. Dari kejauhan terlihat sosok orang memakai tudung hitam dam berjubah hitam yang senada dengan tudung kepalanya. Basah kuyup seperti Mizu sekarang. Dengan ragu, Mizu mendekati pagar utama rumah kediaman Kumayuki—sedikit ketakutan karena orang bertudung disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana caranya memanggil Haruhi kalau aku datang, eh?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu memaksa untuk tersenyum ramah pada orang yang bertudung yang menatap Mizu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-6950875822483852013?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/6950875822483852013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/aku-pergi-dulu-ya-oka-san.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6950875822483852013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6950875822483852013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/aku-pergi-dulu-ya-oka-san.html' title='Strangers — Pt. 1.1 (Mizu)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-616109351664931912</id><published>2009-03-18T01:12:00.004+07:00</published><updated>2009-04-25T21:59:32.920+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer Holiday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>Strangers — Pt. 1.1 (Haruhi)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;Summer 1980&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;09:04 AM, A week and 2 Days after arrival&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"&lt;em&gt;Ohayou gozaimasu,&lt;/em&gt; Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu? Haruhi sama sekali belum terbiasa dengan panggilan &lt;em&gt;-sama&lt;/em&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Err—pagi, Makiko," ujarnya membalas sapaan dari &lt;a href="http://celebs.japansuki.com/img/Yada_Akiko.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Makiko Matsuzaka&lt;/a&gt;, pengurus rumah sekaligus istri dari Hideyuki itu. Telinga Haruhi rasanya berdengung tiap kali mendengar sapa-sapaan dan bahasa-bahasa Jepang berseliweran di sekitarnya. Perlu diketahui bahwa Haruhi tidak terlalu pandai berbahasa Negeri Matahari Terbit itu, karena terakhir kali mendengarnya mungkin waktu ia masih lima tahun. Keluarga Matsuzaka untungnya cukup lancar berbahasa Inggris, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi. Haruhi sendiri berbicara pada bibinya, &lt;a href="http://www.nipponcinema.com/images/tag/anna_tsuchiya.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Larine&lt;/a&gt;, menggunakan Bahasa Inggris. Kemana bibinya itu? Larine berjanji akan segera menyusul Haruhi ke Jepang tepat setelah semua urusannya di Kanada selesai, mungkin beberapa hari lagi baru ada. Setidaknya Haruhi sudah memberikan alamat &lt;em&gt;rumahnya&lt;/em&gt; ini pada sang bibi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kali kedua Haruhi menginjak Kediaman Kumayuki. Ia masih ingat betul, pertama kalinya adalah dua-tiga tahun lalu, dan ia sendirian saja. Sekarang, tepat setelah kelulusannya dari Hogwarts, Haruhi diminta untuk menetap di Jepang. Baru dua hari yang lalu ia tiba disini, dan Haruhi &lt;em&gt;tidak sendirian&lt;/em&gt;. Kau bisa tebak siapa yang &lt;em&gt;ia bawa&lt;/em&gt; ke Jepang, setelah berhasil mendapatkan izin dari keluarga. Well, Haruhi tahu bahwa &lt;em&gt;dia&lt;/em&gt; hanya berniat untuk pulang ke rumah&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;, itu saja. Tak ada maksud lain. Dan Haruhi setengah berharap kekasihnya itu tetap berada di Jepang, tidak meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, benar. Haruhi &lt;em&gt;memang&lt;/em&gt; egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilangkahkannya kaki keluar dari &lt;a href="http://robertbrockob.com/images/japanese_bedroom.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;kamarnya&lt;/a&gt; di bagian belakang bangunan utama, menuju ruang tengah. Bukan ruangan yang dekat dengan pintu utama, tapi. Ada &lt;a href="http://www.artic.edu/aic/collections/citi/images/standard/WebLarge/WebImg_000031/3647_269284.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;ruangan lain&lt;/a&gt; di dalam sana, dekat dengan halaman belakang, dan cukup luas. Semua &lt;a href="http://www.japanesespaces.com/album/jsOB8.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;jendela serta pintu gesernya&lt;/a&gt; dalam keadaan terbuka saat ini, mungkin karena masih pagi. Haruhi menghela nafas begitu menyadari di luar tengah hujan cukup deras, walaupun tidak sampai berangin. Di Jepang sendiri saat ini sedang musim panas, jadi kecenderungan untuk cuaca berangin sangat kecil. Tadi malam saja udaranya cukup panas. Sadar bahwa tuan mudanya terlihat kurang senang, Makiko cepat-cepat menggeser salah satu pintu untuk menutupi ruangan. Wanita di usia kepala tiga itu mengurungkan niatnya ketika Haruhi melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usah, Makiko. Biarkan saja—," ujarnya seraya menatap keluar, memperhatikan rintik air hujan yang turun, "—aku lebih suka begini," lanjutnya seraya mendekat ke arah meja panjang di tengah ruangan dengan sarapan terhidang di atasnya, duduk kemudian. &lt;em&gt;Di lantai&lt;/em&gt; beralaskan tatami kecoklatan. Ala Jepang, dan Haruhi sama sekali tidak menolak untuk ini. Telur mata sapi, nasi, dan sup miso. Ia memang belum begitu terbiasa dengan nasi, namun mulai detik ini harus segera diusahakannya. &lt;em&gt;Bukankah sisa hidupnya kemungkinan akan dihabiskan di tanah leluhurnya?&lt;/em&gt; Sementara itu Makiko hanya mengangguk kecil, kemudian meninggalkan tuan mudanya sendirian menuju ke dapur. Entah apa yang dilakukan wanita itu, mungkin mempersiapkan sarapan cadangan seandainya Haruhi tidak suka. Tepat setelah Makiko pergi, Hideyuki muncul dan menghampiri Haruhi yang tengah meneteskan kecap asin ke atas telur mata sapi di piringnya. Pria setengah baya itu tersenyum, kemudian duduk di hadapan Haruhi. Senyumannya terasa amat &lt;em&gt;misterius&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Sudah mulai terbiasa di rumah barumu ini, Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt;?"&lt;/span&gt; tanyanya seraya mengambil mangkuk berisi nasi dan sumpit di hadapannya, tepat setelah menggumamkan &lt;em&gt;'Itadakimasu&lt;/em&gt;'. Baru Haruhi sadari, ada empat buah sarapan terhidang di atas meja : yang berarti, Haruhi tidak akan sendirian disini. Well, &lt;em&gt;kabar yang menyenangkan&lt;/em&gt;, tentu saja. Haruhi tidak pernah suka makan diperhatikan orang lain, apalagi jika hanya dia sendiri yang makan. Ingat beberapa tahun lalu ketika bibinya memaksanya untuk menghabiskan semua masakan buatannya? &lt;em&gt;Itu adalah mimpi terburuknya&lt;/em&gt;. Haruhi mengangguk kecil, meletakkan botol kecapnya dan meraih sumpitnya. Ia memejamkan matanya sebentar, berdoa, kemudian mengambil mangkuk nasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa dibilang begitu, Matsuzaka," jawabnya singkat. Haruhi melirik dua porsi sarapan lainnya yang belum jelas milik siapa, dan ketika akan bertanya pada Hideyuki, sebuah suara kecil terdengar dari koridor bagian dalam, berteriak-teriak memanggil-manggil &lt;em&gt;Tou-san&lt;/em&gt;. Dan tak perlu waktu lama bagi Haruhi untuk sadar bahwa kemungkinan besar, Hideyuki-lah yang dicari. Dulu Haruhi juga memanggil ayahnya dengan sebutan itu, dan ketika usianya lima tahun adalah saat terakhirnya bertemu dengan sang ayah. Tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Tou-san!! Tou-san!!"&lt;/span&gt; suara cempreng itu lama kelamaan semakin keras, disusul dengan sosoknya yang semakin mendekat. Seorang gadis muda dalam balutan rok jeans mini selutut dan kaus polo berkerah &lt;em&gt;short-sleeve&lt;/em&gt; sudah berada di ruangan dimana Hideyuki dan Haruhi berada saat ini. Gadis itu, &lt;a href="http://www.hip-university.net/images/WeekPics/39-KameiEri.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Kaoru Matsuzaka&lt;/a&gt;, setengah berlari menuju ayahnya dan mengerling Haruhi sekilas, terlihat menelan ludahnya, &lt;span style="color:grey;"&gt;"&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Ada yang mencari Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt;! Dan aku tidak kenal siapa dia!&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; ujarnya panik, setengah menarik ayahnya untuk berdiri. Haruhi mengernyitkan dahinya, meletakkan sumpitnya dan menatap Kaoru tajam. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Kaoru, dan dengan cepat Hideyuki segera menerjemahkannya, &lt;span style="color:grey;"&gt;"Ada yang mencari anda, Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa? Wanita?" tanyanya, dan Haruhi setengah berharap kalau itu adalah bibinya. Atau setidaknya, &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:GREY;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;"BUKAN!! BUKAN!! Tou-san, kau harus lihat sendiri!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kaoru memaksa ayahnya untuk bangkit, dan Hideyuki pada akhirnya pun terlihat pasrah dengan tingkah putri semata wayangnya yang sebaya dengan tuan-mudanya, &lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;"Kau berlebihan, Kaoru. Mungkin hanya tukang pos atau sejenisnya? Jangan membuat Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt; panik,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ujar ayahnya, namun Kaoru membantah dengan gelengan cukup keras. Hideyuki mengerling tuan-mudanya, mengangkat bahunya, &lt;span style="color:grey;"&gt;"Akan saya lihat dulu. Haruhi-&lt;em&gt;sama&lt;/em&gt; tetap disini saja,"&lt;/span&gt; ujar Hideyuki. Kaoru menarik sang ayah keluar dari ruangan setengah menyeret, dan meninggalkan Haruhi sendirian lagi di ruangan. Dalam dirinya mulai timbul rasa penasaran cukup besar : &lt;em&gt;Siapa yang mencarinya hingga Kaoru terlihat panik seperti itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi menatap keluar lagi. Hujan masih turun dengan derasnya. Dan entah kenapa hanya terpikir satu orang di otaknya, yang mungkin saja mencarinya dan berdiri di depan sana saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shogun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayahmu sudah mati, Haruhi.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-616109351664931912?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/616109351664931912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/strangers.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/616109351664931912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/616109351664931912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/strangers.html' title='Strangers — Pt. 1.1 (Haruhi)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-7098612056295078576</id><published>2009-03-18T01:00:00.000+07:00</published><updated>2009-03-18T03:19:06.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kumayuki Residence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Places'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Intro'/><title type='text'>Kumayuki Residence (Introduction)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;16-4 Sazu-machi, Chofu-shi, Tokyo - Japan&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;Kediaman Keluarga Besar Kumayuki&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i44.tinypic.com/15mcirm.jpg" alt="Posted Image" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan arsitektur serta interior yang mempertahankan ciri-ciri khas Jepang pada Zaman Edo, membuat rumah dengan pagar setinggi 2,5 meter dan luas tanah sekitar 650m² ini sebagai pusat 'perhatian' untuk lingkungan sekitarnya. Bangunan tua itu dipagari &lt;a href="http://i40.tinypic.com/2qjdhsj.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;tembok berwarna putih-tulang, dengan pintu gerbang berbahan kayu cukup besar&lt;/a&gt; di depannya. Gerbang dengan palang kayu serta gembok besar ini berjarak 3 meter ke bangunan utama, dengan &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/summa/2143363400/in/set-72157606335466093/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;jalan setapak kecil&lt;/a&gt; berada diantaranya. Halaman depan dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan rimbun berbagai jenis, semakin memperindah area jalan setapak yang terdiri dari batu-batu pijakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses untuk masuk ke dalam rumah tak hanya dibatasi melalu pintu utama saja, namun di kanan dan kiri jalan setapak ada jalur &lt;em&gt;cepat&lt;/em&gt; dengan rumput terhampar, mengarah pada bagian samping bangunan utama serta &lt;em&gt;Tea House&lt;/em&gt; di sebelah kiri dan &lt;em&gt;Guest House&lt;/em&gt; di sebelah kanan. Keduanya terpisah dari &lt;em&gt;Main House&lt;/em&gt;, sementara gudang sendiri berlokasi di belakang &lt;em&gt;Guest House&lt;/em&gt;. Secara garis besar, kediaman berumur seratus tahun ini didominasi oleh halaman sementara hanya ada empat bangunan di dalamnya, terdiri dari &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/tanaka_juuyoh/2089848533/in/set-72157605568359952/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;em&gt;Main House&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;, &lt;a href="http://www.seewald.com/images/Japan/Tea-House-Interior.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Tea House&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.shinjinkai.org/HomePageDojoInteriorShot.JPEG.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Dojo&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/summa/1240644202/in/set-72157606335466093/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Guest House&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, dan &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/summa/511912549/in/set-72157606335466093/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;&lt;em&gt;Warehouse&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Main House&lt;/em&gt; adalah tempat tinggal kepala keluarga beserta kedua orangtuanya, anak, dan istrinya, sementara kakak-kakak dan adik-adiknya tinggal di &lt;em&gt;Guest House&lt;/em&gt;. Pengacara keluarga, &lt;a href="http://hori109.blog.ocn.ne.jp/photos/uncategorized/2008/02/03/tokito_saburo.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Hideyuki Matsuzaka&lt;/a&gt; beserta keluarganya yang menetap sementara hingga masalah warisan keluarga Kumayuki jelas, tinggal di &lt;em&gt;Guest House&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Tea House&lt;/em&gt;, seperti namanya, adalah tempat diadakannya Upacara Minum Teh ala Jepang (&lt;em&gt;chanoyu&lt;/em&gt;), namun sekarang dialih-fungsikan sebagai tempat menerima tamu. Dojo Keluarga Kumayuki sendiri bersifat umum, namun lebih sering digunakan untuk pelatihan Kendo serta Karate. Sejak dialihkan pada Matsuzaka, Dojo ini dibuka untuk pelatihan umum padahal sebelumnya tertutup untuk kalangan keluarga saja. Pengajarnya pun adalah dari kalangan keluarga si pengacara sendiri. &lt;em&gt;Warehouse&lt;/em&gt; berisi barang-barang yang sudah tak terpakai lagi, tidak menutup kemungkinan beberapa barang berharga disimpan disini dengan agak tersembunyi. Terdapat gudang bawah tanah di dalamnya, sekarang digunakan untuk menyimpan sake serta persenjataan keluarga, dimana dahulunya berfungsi sebagai &lt;em&gt;bunker&lt;/em&gt; perlindungan darurat di zaman perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediaman Kumayuki didominasi oleh hijaunya tumbuh-tumbuhan, tidak heran jika terlihat asri dan terasa amat sejuk di musim panas serta musim semi. Pepohonan rimbun berada di halaman depan dan belakang, sementara berbagai jenis bunga tumbuh di belakang, tepatnya di halaman tengah persimpangan jalan setapak menuju bangunan lainnya. Bonsai-bonsai milik &lt;a href="http://i36.tinypic.com/2uizz49.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Nobu Kumayuki&lt;/a&gt;, Kepala Keluarga Generasi ke-18 sekaligus kakek dari Haruhi, terlihat berjejer rapi di halaman tengah &lt;em&gt;Main House&lt;/em&gt;, berdekatan dengan kolam yang menggenang di bagian bawah koridor luar bangunan utama. Koridor luar tersebut biasanya digunakan sebagai tempat bersantai dan &lt;em&gt;Tsukimi&lt;/em&gt; (Acara Melihat Bulan), karena bulan purnama memang paling jelas terlihat disini. Di halaman depan, terdapat sebuah &lt;a href="http://image60.webshots.com/60/0/29/14/407902914WmoybQ_fs.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;kuil kecil&lt;/a&gt; untuk berdoa. Setiap uang receh yang ada di kotak sumbangan kuil ini, akan dialihkan ke kuil besar Chofu-shi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang spesial dengan isi dari Main House, tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah pada umumnya di Jepang. Pintu kayu jati tipe geser dua buah sebagai pintu utama, dan begitu masuk ke dalamnya, terdapat area lantai yang 'naik', tanpa tangga. Semacam &lt;a href="http://pro.corbis.com/images/YM003430.jpg?size=67&amp;amp;uid=%7BA918206A-10D9-4C74-B1EB-05337EAA9B6D%7D" target="_blank" rel="nofollow"&gt;koridor atas&lt;/a&gt;, dan ini memang khas rumah tradisional. Tepat di sebelah kanan pintu, terdapat dua buah &lt;a href="http://www.fusionuk.co.uk/autumn/fusbm/shoe%204.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;rak sepatu&lt;/a&gt; berukuran sedang setengah meter. Disini semua jenis sepatu disimpan, dimana rak sebelah kiri untuk sandal dan kanan untuk sepatu. Dahulu, setiap anggota keluarga memiliki tempat satu baris di raknya. Saat ini hanya terisi oleh milik keluarga Matsuzaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk jauh ke dalam, berbelok ke kanan, akan terlihat sebuah ruangan yang entah berukuran berapa tatami. Begitu luas, dan ini hanya ruangan pertama. Jauh ke dalam masih banyak ruangan lainnya, dan rata-rata semuanya tidak lepas dari nuansa tradisional serta warna coklat. Ruang depan sendiri adalah ruang tamu, dan bisa juga dikatakan sebagai &lt;a href="http://image.blog.livedoor.jp/plazahomes3/imgs/1/7/17fa6953.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;ruang keluarga utama&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-7098612056295078576?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/7098612056295078576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/kumayuki-residence-introduction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/7098612056295078576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/7098612056295078576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/kumayuki-residence-introduction.html' title='Kumayuki Residence (Introduction)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i44.tinypic.com/15mcirm_th.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-6573001824662789651</id><published>2009-03-17T14:05:00.001+07:00</published><updated>2009-03-23T02:06:46.277+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='7th Year'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Birthday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizuhime'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>7 Mei 1980 - Hufflepuff's Table (Pt. 1.1 Mizuhime)</title><content type='html'>"Nah, Nekai-chan. Habiskan sarapanmu, ya?" Mizu menepuk pelan kepala kucing angoranya―kucing putih dengan bulu lembutnya itu mendongak kepalanya menatap wajah majikannya yang duduk dihadapannya. Nekai mengeong pelan―kemudian kucing jantan itu langsung mengalihkan pandangannya pada mangkuk makanannya yang penuh di pagi hari ini. Sarapan yang akan sangat mengenyangkan, setiap harinya. "Kau sarapan―tentu saja aku harus sarapan," ucap Mizu sumringah melihat Nekai makan dengan lahap. Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya di lantai kamar anak perempuan dan berjalan keluar dari kamarnya setelah melihat pada sebuah kalender sihir di kamarnya, untuk memastikan kalau ia tidak salah. Sekarang tanggal 7 Mei 1980. Seperti biasa, hari yang cerah di musim semi. Namun, hari ini cukup spesial baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeap―kekasihnya, Haruhi sekarang sudah menginjak usia ke delapan belas tahun. Sangat disayangkan, Mizu tidak membawa kado apapun untuknya. Untuk bertemu dengan Haruhi pun sepertinya cukup sulit. Mereka berdua sama sekali tidak buat janji untuk bertemu di suatu tempat hari ini. Dengan kata lain, kencan. Wajah gadis itu seketika berubah warna kalau ia membayangkan dirinya dengan Haruhi merayakan ulang tahun pemuda Slytherin itu hanya berduaan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kecilnya yang sudah mencapai Aula Besar berhenti tiba-tiba―menatap tak percaya pada seseorang beremblem Slytherin yang tengah duduk di meja asramanya. Mizu melirik pada adik sepupunya, Sherty yang duduk dihadapannya. Sherty pun menatap pemuda Slytherin itu dengan tatapan heran. Haruhi, kekasihnya berada di meja asramanya. Kedua bola matanya berputar―cukup senang pemuda itu berada di meja asramanya. Lagipula, Profesor Dumbledore tidak melarang murid dari asrama lain menempati meja bukan milik asrama mereka, asalkan tidak membuat keributan saja. Mizu perlahan mendekati Haruhi dengan tersenyum senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haruhi," sapa Mizu sambil memperlihatkan senyuman manisnya pada kekasihnya itu. "Hai, Sherty," tidak lupa menyapa adik kandung Reid. Mizu segera duduk disamping kiri Haruhi dan kedua bola matanya yang cerah menatap lekat pada wajah Haruhi disampingnya. "Otanjoubi omedettou, Haruhi," seru Mizu mengucapkan selamat ulang tahun pada kekasihnya itu―gadis itu memeluk Haruhi dari samping tanpai ia sadari.                  &lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-6573001824662789651?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/6573001824662789651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/7-mei-1980-hufflepuffs-table.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6573001824662789651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/6573001824662789651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/7-mei-1980-hufflepuffs-table.html' title='7 Mei 1980 - Hufflepuff&apos;s Table (Pt. 1.1 Mizuhime)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-3870538648662470991</id><published>2009-03-17T14:00:00.001+07:00</published><updated>2009-03-23T02:06:27.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='7th Year'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haruhi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Birthday'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1980'/><title type='text'>7 Mei 1980 - Hufflepuff's Table (Pt. 1.1 Haruhi)</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Untuk Haruhi Kumayuki&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;br /&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selamat ulang tahun yang kedelapanbelas, Haruhi-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya selaku pengacara keluarga untuk memberikan ucapan selamat sekaligus menyampaikan berita gembira bagi anda, selaku pewaris sah terakhir dalam garis keturunan Keluarga Kumayuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung sejak usia anda 18 tahun pada 7 Mei 1980, secara hukum anda sah menjadi pewaris resmi seluruh aset kekayaan dan harta Kumayuki. Sebagai satu-satunya keturunan yang masih hidup, Haruhi-sama diharapkan untuk menetap di Jepang setelah menyelesaikan studi di Sekolah Sihir Hogwarts guna mengurus apa yang telah diwariskan pada anda secara menyeluruh, tepatnya Juli 1980. Tentu anda tahu dimana letak kediaman Kumayuki, karena beberapa tahun lalu pernah berkunjung kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi-sama diharapkan membalas jika telah menerima surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;span style="font-family:Lucida Calligraphy;"&gt;Hideyuki Matsuzaka&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pengacara Resmi Keluarga Kumayuki&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Hari ini usianya bertambah satu tahun. Genap delapan belas, dan bagi orang Asia, ini adalah umur menuju kedewasaan. Dua tahun lagi usianya duapuluh tahun. Haruhi kini duduk di ujung Meja Hufflepuff saat sarapan pagi dan sama sekali tidak mengindahkan tatapan-tatapan bertanya terarah padanya itu, melipat surat di tangannya. Dari Matsuzaka, pengacara keluarganya. Berbicara soal warisan, dan Haruhi tidak begitu suka membicarakannya, karena secara tidak langsung ia akan teringat kedua orangtuanya yang sudah tidak ada lagi di sisinya. &lt;em&gt;Terutama ayahnya&lt;/em&gt;. Hatinya masih pilu. Kenyataan bahwa ayahnya, Shogun, meninggal begitu saja di Azkaban hingga sekarang masih belum bisa diterimanya. Ia tidak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sayangnya, mayat sang ayah sudah tak tahu juntrungannya sekarang berada dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi mengalihkan matanya ke arah pintu aula yang terbuka lebar. Waktu sarapan begini banyak murid-murid yang hilir mudik di Aula Besar, dan tentu sudah bisa ditebak siapa yang dinanti Haruhi pagi ini. &lt;em&gt;Kekasihnya&lt;/em&gt;. Gadis berambut panjang itu belum terlihat kehadirannya daritadi. Berada di Meja Hufflepuff rupanya memberikan sensasi tersendiri bagi para murid Musang, mungkin tak terbiasa mendapati salah seorang siswa beremblem Ular berani duduk di tempat ini. Sebisa mungkin tidak dipedulikannya bisikan-bisikan serta celaan di sekitarnya, dan Haruhi mendengus pelan. &lt;em&gt;Silakan bergunjing sesukamu, Musang-musang Tolol Pelahap Kabar Burung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada soal warisan. Yang menjadi perhatiannya saat ini adalah masalah menetap di Jepang. Mungkinkah? Ada baiknya dan ada buruknya. Dalam diri Haruhi sendiri masih tersimpan banyak pertanyaan mengenai silsilah keluarganya, dan mengapa harta keluarga bisa jatuh ke tangannya. Masih ada Larine. Dan Matsuzaka tidak mengenal wanita muda itu. Jika Larine memiliki darah bangsawan Kumayuki, maka bibinya itu secara tidak langsung akan mendapatkan harta keluarga. Namun kenyataan berkata lain. Haruhi berencana mengabari bibinya tepat setelah berbicara pada &lt;em&gt;Hime&lt;/em&gt; mengenai ini. Dan tentu saja, ia tidak akan memberitahu gadis itu apa yang dikatakan oleh bibinya musim gugur kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida handwriting;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Biarkan ia mengetahuinya jika saatnya sudah tepat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, hampir lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Happy birthday to yourself, Haruhi.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-3870538648662470991?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/3870538648662470991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/introduction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/3870538648662470991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/3870538648662470991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/introduction.html' title='7 Mei 1980 - Hufflepuff&apos;s Table (Pt. 1.1 Haruhi)'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14870608060611442.post-5423558534193671246</id><published>2009-03-13T02:25:00.000+07:00</published><updated>2009-03-18T03:16:41.179+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='5th Year'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fanfiction'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='One-shot'/><title type='text'>Her</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Title:&lt;/span&gt; Her&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disclaimer:&lt;/span&gt; Kumayuki Haruhi punya PMnya, Mizuhime Winterfield punya PMnya, Yusuke Sawada punya gw, beberapa pengajar mapel sihir+chara punya IH+PMnya dan Hogwarts serta segala keajaibannya adalah milik JK Rowling. Buat para PM, maaf jika sudah menghancurkan karakter anda. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Song credits :&lt;/span&gt; Pat Mohana - Her Eyes, Backstreet Boys - Helpless When She Smiles.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Timeline:&lt;/span&gt; Tahun Kelima *nggak punya ide lain*&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rating:&lt;/span&gt; T, nggak ada yang berbahaya—hope so.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perpustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi mengintip dari balik buku tebalnya. Tepat di hadapannya seorang gadis Asia yang sebaya dengannya, tengah berkutat dengan pena bulunya, tangan kirinya memangku dagu. Sesekali pena bulunya ia mainkan dengan jemari lentiknya, pertanda bahwa ia sedang berpikir dengan keras. Dahinya terlihat berkerut. Haruhi memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu, tidak berkonsentrasi pada bukunya. Tampaknya yang sedang diperhatikan menyadari ada yang menatapnya sehingga gadis Asia itu mengerling pada Haruhi, dan ditanggapi pemuda itu dengan panik—kembali menekuni bukunya. Mizu tersenyum pada Haruhi, meletakkan kedua tangannya di atas meja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang ingin kau tanyakan, Haruhi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Ti-tidak, tidak ada, Mizu—,” ucapnya tergagap dan menidurkan bukunya di meja, tidak menatap gadis itu sama sekali. Salah tingkah. Matanya berusaha ia tujukan pada buku, bahkan sekarang karena panik Mizu menyadari sedang diperhatikan dirinya, Haruhi membalik-balikkan halaman bukunya dengan tergesa. Seperti melakukan sesuatu yang salah. Mizu terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya—merasa aneh dengan tingkah Haruhi yang tidak seperti biasanya. Gadis itu tersenyum lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan malu untuk bertanya, oke? Kita disini untuk belajar bersama, dan aku tidak keberatan untuk membantumu,” Mizu mengakhiri ucapannya dengan senyuman manis, tidak mengalihkan tatapannya pada Haruhi sementara pemuda itu menengadahkan kepalanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—mata mereka bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola mata jernih milik Mizu dan bola mata hitam terang milik Haruhi. &lt;em&gt;Saling beradu pandang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Her eyes, that's where hope lies&lt;br /&gt;That's where blue skies&lt;br /&gt;Meet the sunrise&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jantung Haruhi berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya—hanya ketika tatapannya dan gadis itu bertemu. Mengapa getaran itu terasa lagi dalam dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat mungkin ia mengalihkan tatapannya, kembali ke buku Arithmancy-nya karena Yusuke berjalan mendekati mereka berdua dengan setumpuk buku dalam genggamannya. Pemuda berkulit gelap itu meletakkan buku-bukunya di depan Mizu dan Haruhi, menimbulkan suara berisik dan membuat semua orang di perpustakaan menatap sinis padanya. Yusuke seperti biasa hanya nyengir lebar, kemudian duduk di sebelah Mizu. Melihat itu Haruhi merutuki dirinya sendiri kenapa tidak sejak awal saja ia duduk di sebelah Mizu—tidak rela jika gadis Asia tersebut berada di sebelah sahabatnya. Cemburu? Entahlah, yang jelas Haruhi tidak suka Mizu dekat dengan laki-laki lain—terlebih lagi dengan makhluk bernama Mendez. Buang dia ke laut jauh-jauh kalau perlu agar tidak mendekati Mizuhime Winterfield lagi. &lt;em&gt;Good idea.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yucchan, apa ini?” tanya Mizu tertawa pelan sekaligus heran, menepuk-nepuk tumpukan buku yang ada di hadapannya. Haruhi mengernyitkan dahinya, melepaskan pandanganya dari buku dan menggeser tumpukan buku yang menghalangi pandangannya &lt;em&gt;untuk melihat Mizu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuke nyengir lebar, menatap Mizu dan Haruhi bergantian, “Buku yang kita butuhkan untuk belajar hari ini, tentu saja! &lt;em&gt;Kamus Besar Rune Kuno&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Semuanya Mengenai Airthmancy&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Hewan-hewan Menakjubkan dan Dimana Kau Bisa Menemukannya&lt;/em&gt;, dan—aku lupa apalagi,” ujar Yusuke menggarukkan kepalanya, mengernyitkan dahinya dan menunjuk sisi samping buku-buku yang ada di hadapannya, mencari judul buku apalagi yang ditemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruhi memutar bola matanya, “Kita tidak perlu buku sebanyak itu. Memangnya kau bisa menjamin semuanya akan selesai dibaca hari ini juga?” ujarnya dengan nada heran disertai dengusan pelan, membalikkan halaman buku yang dibacanya. Matanya mengerling pada sosok Mizu yang menahan tawa ketika berkutat dengan pekerjaannya lagi, membiarkan Yusuke menganga seakan menyetujui perkataan Haruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurut kalian usahaku tadi itu—sia-sia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mizu tertawa kecil, menutupnya dengan tangan. Diulasnya sebuah senyuman, menepuk pundak Yusuke dengan tangan kirinya, “Tidak, Yucchan. Usahamu tidak sia-sia. Ya, kan, Haruhi?” gadis berambut panjang itu berusaha menghibur Yusuke, menanyakan pendapat pada Haruhi—dengan senyuman manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Err—,” Haruhi tergagap, “—lihat nanti sajalah,” ujarnya pelan dan kembali menatap bukunya. Kembali salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;She smiles.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Setelah Kelas Ramuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Asia dengan dasi Slytherin di kerahnya itu—Haruhi—menarik nafas panjang, menyemangati dirinya sendiri. Ia berbalik ke arah pintu kelas yang masih terbuka, memastikan kalau yang dicarinya masih ada di dalam—dan memang benar. Gadis itu masih ada di dalam, membereskan semua barangnya untuk bersiap keluar kelas. Profesor Slughorn menyapa gadis itu, kemudian berjalan keluar kelas dan hampir menabrak Haruhi. Pria tersebut hanya melempar pandangan tajam pada murid asramanya, kemudian berjalan menyusuri lorong dengan buku-buku di tangan kirinya. Haruhi kembali mengintip ke dalam kelas, menarik nafas dalam dan bersiap melangkah masuk ke dalam—namun segera diurungkan karena melihat ada orang lain di samping gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembali ke asrama, Winterfiled?” senyum Mendez pada Mizu—membuat Haruhi ingin menonjok teman seasramanya itu saat ini juga dan menendangnya jauh-jauh dari Mizu. &lt;em&gt;Jauhi Mizu, Mendez!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya tidak, Mendez. Aku harus ke ke Lapangan Quidditch, ada yang harus kuberikan pada Madam Hooch,” ujar Mizu malas pada pemuda di hadapannya, tangannya melipat perkamen-perkamen yang berantakan miliknya dan menyelipkannya ke dalam tas. Tepat ketika mengambil tasnya dan akan melangkah keluar, Mendez menghalangi jalannya. Mizu menghela nafas berat, merasa agak kesal dengan perlakuan Mendez,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Mendez, bisakah kau minggir? Aku sedang terburu-buru sekarang—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih marah padaku?” tanya Mendez lirih, namun suaranya masih dapat terdengar oleh Haruhi yang berada di luar kelas. Penasaran, pemuda Asia itu berdiri depan pintu namun dirinya menempel di sisi kiri tembok luar—mengintip dan menajamkan telinganya untuk mendengar setiap kata pembicaraan Mizu-Mendez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu apa jawabanku, Mendez,” ujar Mizu ketus, berusaha melewati Mendez namun pemuda itu masih terus menghalanginya, bahkan sekarang meraih pergelangan tangan gadis itu, berusaha menahan keras agar Mizu tidak pergi sebelum penjelasannya selesai. Apa yang dilakukan Mendez membuat Haruhi terkejut dan hampir saja ia berjalan masuk, benar-benar ingin membanting Mendez karena begitu berani menyentuh Mizu. Tentu saja niat tersebut diurungkannya, Haruhi berusaha menahan diri dan sekarang kembali berdiri di luar kelas—berusaha sekeras mungkin agar kedua anak yang berada di dalam tidak menyadari kehadirannya. Atau setidaknya, tidak sadar bahwa ada yang sedang menguping pembicaraan mereka saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarkan aku dulu—sudah kubilang yang kemarin itu—tidak sengaja—,” lirih Mendez, semakin mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Mizu. Gadis itu meronta sekuat tenaga, menepis genggaman Mendez dengan kasar dan menatap tajam pemuda itu—di pelupuk matanya sudah tergenang air mata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sengaja atau tidak, Mendez, kau tahu—aku tidak suka!” ujarnya kasar lalu berlari melewati pemuda dengan rambut cokelatnya itu, meninggalkan kelas terburu-buru dan tidak sadar bahwa Haruhi berada di luar. Mendez sendiri berdecak kesal, mengacak-ngacak rambutnya dan menendang kasar salah satu meja di dalam. Haruhi hanya terdiam, tidak mampu berkomentar apa-apa karena secara garis besar ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ditolehkannya kepala, memandang Mizu yang semakin menjauh dari kelas ramuan—menuju ke lantai atas. Terlihat bahunya naik turun dan lengannya bergerak, seperti menghapus sesuatu di wajahnya. Sempat terdengar isak tangis pelan ketika Mizu meninggalkan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kejar dia, Haruhi. Tidakkah kau dengar dia menangis?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Halaman Kastil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosoknya tak ada dimana-mana. Haruhi menghentikan larinya, terengah-engah dan menempelkan tangannya di atas lutut—kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari gadis yang dikejarnya. Entah kenapa larinya begitu cepat, dan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;em&gt;itu dia&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Asia dengan rambut hitam panjangnya itu duduk di salah satu bangku, tangannya menutup mulut dan bahunya naik turun. Haruhi berjalan mendekat, mengatur nafasnya dan menelan ludah, berusaha meyakinkan diri bahwa Mizu tidak menangis. Dan itulah ketakutan terbesarnya. Ia berdiri tepat di hadapan Mizu yang kini menundukkan kepala, mendengar suara isak tangisnya—lagi. Pada kenyataannya, gadis ini memang tengah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau akan hancur di tanganku, Mendez!&lt;/em&gt; janjinya pada diri sendiri. Bisa dipastikan kalau pemuda berwajah latin itu tak akan selamat di tangan Haruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mizu?” lirih Haruhi pelan, kini membungkuk dan duduk di sebelah gadis itu, wajahnya menyiratkan kecemasan. Wajah yang tak pernah ditunjukkan Haruhi pada siapapun sebelumnya. Mizu menoleh—pipi mulusnya telah dibasahi air mata yang coba dihapusnya—agak terkejut menemukan Haruhi berada di sebelahnya. Gadis itu berhenti menangis namun masih terisak—menghapus air matanya dengan jemarinya, tersenyum lemah pada Haruhi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Haruhi—,” lirihnya pelan, masih berusaha meghilangkan isakannya. Haruhi mengeluarkan sapu tangan berwarna hijau gelap dan memberikannya ke gadis sebelahnya. Kedua bola mata hitam terangnya masih menatap Mizu dengan cemas. Mizu tersenyum lemah lagi, mengambil sapu tangan milik Haruhi dan menyapukannya ke wajah—untuk membersihkan air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arigato—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mendez berbuat macam-macam padamu?” ujar Haruhi datar—walau sebenarnya ia cemas setengah mati—tetap tidak melepaskan padanganya dari gadis hufflepuff di sebelahnya. Mizu mendongkkan kepalanya, menutup kedua matanya dan menarik nafas dalam—sapu tangan Haruhi berada dalam genggamannya. Gadis itu tersenyum lemah lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” lirih Mizu, berusaha mengeluarkan nada ceria dalam perkataannya, “Mendez tidak berbuat apapun padaku—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mizu,” Haruhi memotong perkataan sahabatnya dengan tegas, mengalihkan tatapannya sekarang pada sekumpulan anak-anak yang tengah bermain basket di tengah halaman, “aku mendengarnya,” lanjutnya singkat kemudian terdiam, menautkan kedua tangannya dan meletakkannya di pangkuan, matanya mengarah ke rerumputan yang berada tepat di bawahnya. Mizu jelas terkejut dengan apa yang keluar dari mulut pemuda di sebelahnya, tidak menyangka bahwa ada yang mendengar pertengakaran kecilnya dengan Mendez di bawah tanah barusan. Dipasangnya senyuman lemah lagi pada Haruhi, namun tidak sedikit pun menatap pemuda itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah—,” jawabnya singkat, dan sama sekali tidak memuaskan rasa penasaran Haruhi. Baru akan memaksa gadis itu berbicara lebih jauh lagi, Mizu kembali membuka suara dan berucap dengan nada cukup cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menciumku. Bibir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik. Tidak ada koma, dan tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Mizu setelah itu. Pemuda yang ada di sebelahnya terpaku ketika mendengarnya, reflek menoleh dan menatap gadis di sebelahnya tidak percaya. &lt;em&gt;Jadi Mendez menciumnya?&lt;/em&gt; Dan Haruhi sekarang merasa bahwa para Cupid tengah melemparkan ribuan granat padanya, ditambah dengan ribuan panah kutukan tengah dilancarkan padanya. Suhu tubuhnya memanas, kedua tangannya mengepal dan mengeras—pikirannya melayang pada beberapa list rencana yang akan dilakukannya untuk membunuh Mendez secara cepat. Beraninya pemuda itu mencium Mizu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku—tidak menyukainya,” lirih Mizu pelan selang lima detik keheningannya dengan Haruhi. Pemuda itu terkejut, mengangkat alisnya dan menatap Mizu heran. Apa maksudnya kalau Mizu tidak menyukai Mendez? Sudut relung hatinya sedikit berbunga, merasakan adanya sedikit harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendez menyukaimu, dan aku tahu kau juga menyukainya,” ujar Haruhi datar tanpa sadar bahwa yang dikatakannya barusan amat-sangat-sok-tahu, merutuki dirinya sendiri dua detik kemudian. Mengapa dirinya berbicara seperti itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Haruhi—,” Mizu menarik nafas dalam, sekarang air matanya telah kering dan tidak terdengar satupun isakan darinya. Gadis itu menarik nafas dalam, menoleh pada Haruhi dan memberikan tatapan serius, “—sejak ia menciumku, aku membencinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan memang sulit dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kau menyukainya, kan? Sebelum—yeah, itu,” deham Haruhi pelan berusaha mengalihkan dirinya dari tatapan mata jernih Mizu, “bukankah berarti kalian saling menyukai?” lanjut Haruhi, ditanggapi gadis itu dengan tawa pelan dan gelengan lemah. Diangkatnya saputangan milik Haruhi dan menatapnya, menghela nafas panjang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ia menyukaiku, ia tidak akan melakukan—itu,” lirihnya datar, menempelkan saputangan Haruhi ke wajahnya. Tidak terdengar isakan maupun tangisan dari Mizu. Sempat hening beberapa detik, dan keheningan itu terputus oleh Haruhi yang membelai kepala gadis itu sekarang. Entah apa maksudnya, bahkan Haruhi sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya ini. Benar atau tidak. Pemuda itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, matanya megarah ke depan, hanya sebagai pengalihan diri agar tidak menatap Mizu yang kini mengangkat kepalanya dan memasang ekspresi keheranan. Pasti gadis itu berpikir bahwa Haruhi hari ini cukup aneh. Bukan seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan melakukannya padamu—,” lirih Haruhi pelan, dan segera menyambungnya begitu sadar bahwa yang dikatakannya amat-sangat-bodoh, “—jika aku Mendez,” sambungnya dan menurunkan tangannya dari kepala Mizu. Wajah Haruhi kini datar, tanpa ekspresi—walau sebenarnya sekarang ia cemas luar biasa dan panik, jantungnya bergejolak dua kali lipat lebih dari biasanya, belum lagi dirinya berharap Mizu tidak mendengar kata-katanya barusan. &lt;em&gt;Unfortunately, she heard it&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu—,” lirihnya pelan diikuti senyuman penuh arti, dan membuat Haruhi tidak bisa berkata apapun mendengarnya. Entah apa maksud senyuman dan perkataan Mizu barusan, hanya gadis itu yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah Haruhi sedikit berharap pada gadis di sebelahnya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah~ Sudah jam berapa ini? Madam Hooch pasti menantiku,” ujar Mizu pada akhirnya, memecah keheningan yang entah sudah berapa kalinya terjadi pada dirinya dan Haruhi saat ini. Gadis Asia dengan lencana keemasan tersemat di jubahnya itu berdiri dari duduknya, merenggangkan lengannya dan menarik nafas dalam. Sementara itu Haruhi masih berada di bangkunya, mengerling Mizu dengan jantung yang semakin berpacu cepat—otaknya masih berpikir keras apa arti dari ucapan Mizu barusan. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ketika Mizu berbalik dan menunjukkan saputangan hijau gelap milik Haruhi, “Arigatou, Haruhi. Saputanganmu akan kucuci dulu sebelum dikembalikan,” ucapnya dan memasukkan saputangan pemuda itu ke dalam tasnya. Haruhi hanya mengangguk kecil, kemudian berdiri dan menatap gadis di depannya. Hanya sekilas, karena ketika Mizu balik menatapnya Haruhi kembali beralih pada rerumputan di bawahnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kutemani,” ujarnya pelan, tidak menatap Mizu namun sesekali meliriknya. Mizu sekali lagi tersentak—entah sudah berapa kali ia mendapatkan banyak kejutan dari seorang Haruhi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa?” tanya Mizu dengan nada khawatir, mungkin saja setelah ini Haruhi ada urusan lain dan tidak perlu ia menemani Mizu kalau memang begitu. Namun pemuda di hadapannya itu menggangguk pelan tanpa bicara—melirik Mizu, dan gadis Asia itu menanggapi Haruhi dengan senyuman manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arigato,” ujarnya pelan, dan Haruhi melihat senyumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;She smiles again&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;em&gt;I'm helpless when she smiles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When she looks at me&lt;br /&gt;I get so weak&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tatapannya itu, membuat Haruhi tidak bisa berbicara apapun kali ini selain mengangguk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih ada harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14870608060611442-5423558534193671246?l=itsoverandendless.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/feeds/5423558534193671246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/her.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/5423558534193671246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14870608060611442/posts/default/5423558534193671246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itsoverandendless.blogspot.com/2009/03/her.html' title='Her'/><author><name>Drabble</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-mjpc_b5ckZ0/TttqdX7XnjI/AAAAAAAAALs/tJ7X8RgE_nA/s220/43-letterD-q75-348x356.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
